100 Pelajar dan Mahasiswa Ramaikan Festival Film Kalbar, Angkat Isu AI hingga Karhutla
PONTIANAK, insidepontianak.com – Festival Film Pelajar dan Mahasiswa (FFPM) Kalimantan Barat kembali digelar dan memasuki tahun ketujuh pelaksanaannya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Pontianak karena dinilai mampu menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan mereka dalam membuat karya film.
Kepala Dispora Kota Pontianak, Rizal, mengapresiasi konsistensi pelaksanaan festival yang telah digelar selama tujuh tahun.
Ia menyebut, kegiatan tersebut sebelumnya telah beberapa kali dilaksanakan di Kota Pontianak melalui kolaborasi dengan pihak terkait.
Menurutnya, keberlanjutan kegiatan hingga memasuki tahun ketujuh merupakan hal positif, mengingat kegiatan serupa terkadang mulai vakum ketika memasuki tahun-tahun pelaksanaan berikutnya.
“Saya apresiasi buat Pak Zulfydar Zaidar Mochtar yang bersama-sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Barat yang sudah efektif kayaknya enam kali pelaksanaannya di Kota Pontianak bersama-sama kami. Di tahun ketujuh ini kita lihat terus berlanjut,” ujar Rizal.
Rizal mengatakan, pihaknya tetap memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut meskipun penyelenggaraan festival telah menjadi ranah pemerintah provinsi.
Ia membuka peluang adanya kerja sama lanjutan dengan memanfaatkan hasil dari festival, termasuk karya-karya yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Kita support di kegiatan di provinsinya. Mungkin nanti ada kegiatan-kegiatan hasil dari Festival Film Pelajar dan Mahasiswa ke-7 ini, ada yang bisa kita soundingkan, kita akan lakukan kerja sama berikutnya dalam teknis yang berbeda,” katanya.
Menurut Rizal, kerja sama ke depan tidak harus dalam bentuk workshop seperti yang dilakukan saat ini, tetapi dapat dikembangkan berdasarkan hasil seleksi dan karya peserta festival.
Ia juga mengapresiasi meningkatnya jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.
“Jumlah pesertanya juga tambah ramai, sudah hampir seratusan lebih pesertanya. Kita berharap hasil dari festival film ini nantinya menjadi semangat buat anak-anak muda di Kalimantan Barat ini,” jelasnya.
Rizal berharap festival tersebut dapat mendorong generasi muda untuk lebih mampu mengeksplorasi berbagai persoalan di lingkungan sekitar. Tidak hanya melihat fenomena di kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, tetapi juga mampu menangkap isu yang berkembang secara nasional hingga global.
Sementara itu, Anggota DPRD Kalbar yang juga Ketua Fraksi PAN DPRD Kalbar, Zulfydar Zaidar Mochtar, mengatakan pelaksanaan festival memasuki tahun ketujuh tetap berangkat dari tujuan awal, yakni memberikan ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, pola pikir, serta kemampuan mereka dalam membuat film.
Menurutnya, film menjadi salah satu sarana untuk mengasah kemampuan generasi muda dalam mengubah ide menjadi sebuah karya visual.
“Diawali dengan tujuan awal bahwa kita ingin adik-adik kita, anak-anak kita cerdas dalam mengembangkan pikiran dan visionernya. Kita berikan ruang kepada adik-adik kita, anak-anak kita dalam memfasilitasi kemampuan mereka untuk membuat film,” kata Zulfydar.
Ia mengatakan, festival tersebut juga diharapkan dapat menjadi wadah alternatif bagi anak-anak muda untuk menyalurkan kreativitas secara positif.
Zulfydar menilai kemampuan membuat film dapat melatih peserta untuk merencanakan sesuatu, mengembangkan ide, hingga mewujudkannya dalam bentuk karya nyata.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi salah satu bekal bagi generasi muda menghadapi persaingan di era bonus demografi 2045.
Ia menegaskan, peserta festival tidak harus menjadi sutradara atau aktor profesional. Hal terpenting adalah mereka memiliki kemampuan untuk berpikir, merencanakan, menuangkan gagasan, dan menghasilkan sebuah karya.
“Belum tentu juga dia menjadi sutradara, belum tentu juga dia jadi seorang artis terbaik putra atau putri. Tetapi yang kita lihat, mereka sudah mampu membicarakan dan memindahkan apa yang ada di pikiran nanti untuk bersaing di tingkat nasional, di tingkat dunia,” ujarnya.
Memasuki tahun ketujuh, Zulfydar menyebut festival tersebut telah melahirkan dan memberikan ruang bagi anak-anak muda baru untuk terus berkarya. Ia berharap Kalimantan Barat dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan generasi muda Indonesia melalui kegiatan tersebut.
Pada pelaksanaan tahun ini, tema yang diangkat juga disesuaikan dengan isu kekinian, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dilema lingkungan, serta persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Zulfydar mengatakan isu tersebut sengaja diangkat agar kondisi yang terjadi di lingkungan dapat menjadi bahan pemikiran dan kritik bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah.
“Kita juga angkat, kenapa emosional lagi tinggi, kita ingin apa yang terjadi lingkungan itu menjadi pemikiran atau kritisan buat DPR saya sebagai DPRD, mungkin pemerintah sebagai bagian pemerintah,” katanya.
Ia menilai kritik yang dituangkan anak-anak muda melalui karya film tidak selalu harus dipandang negatif. Menurutnya, kritik juga dapat menjadi masukan positif bagi pemerintah maupun masyarakat.
“Nah, inilah yang kita butuhkan. Kemampuan mereka inilah yang kita minta tuangkan dengan emosinya dalam bentuk suatu film itu sendiri,” jelasnya.
Dari sisi peserta, Zulfydar memperkirakan jumlah peserta workshop tahun ini telah mencapai lebih dari 100 orang. Ia memperkirakan jumlah film yang masuk dalam festival tahun ini juga dapat meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu rata-rata 40 film, 50 film, saya perkirakan yang pesertanya sudah seratusan. Saya perkirakan bisa 70 sampai 100 film nih tahun ini karena ini sangat menarik,” ungkapnya.
Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak muda saat ini, baik persoalan lingkungan akibat asap dan karhutla di Kalimantan Barat maupun isu nasional dan global, dapat menjadi bahan untuk dituangkan dalam karya mereka.
Zulfydar berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi para peserta festival. Ia juga menyampaikan rencana untuk mendorong adanya sertifikasi terhadap festival tersebut melalui kurator yang dapat diakui pemerintah pusat.
Dengan demikian, karya dan prestasi peserta yang berhasil menjuarai festival diharapkan dapat memiliki nilai tambah ketika mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
“Kami akan berusaha sertifikasi ini menjadi bagi kurator yang dapat disetujui oleh pemerintah pusat supaya anak-anak yang menjuarai festival film ini dapat dihargai waktu mendaftarkan diri untuk tingkat SMP, SMA,” pungkasnya.(Andi)
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment