Berhenti Jadi Sopir di Bali, Saputra Pulang Kampung Bertani Durian Premium: Raja Buah Bawa Rezeki
SAMBAS, insidepontianak.com — Pagi di Dusun Dungun, Desa Perapakan, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, selalu lembap. Tanahnya subur. Apa pun yang ditanam tumbuh memberi harapan.
Di belakang sebuah rumah sederhana, pohon-pohon durian berdiri berjejer rapi. Tegak. Rimbun. Rindang. Seperti peneduh penjaga masa depan. Di sanalah, Saputra menunggu waktu bekerja.
Pohon raja buah itu tumbuh bak taman sunyi. Dirawat dengan hati. Disiram doa. Kini cabang-cabangnya menahan beban. Buah menggantung. Besar. Berat. Menunggu jatuh.
Kesabaran, rupanya, bisa berbuah durian.
Lima tahun silam, lahan itu hanyalah pekarangan biasa. Tak istimewa. Hari ini, hamparan kebun tersebut sudah produktif. Memberi rezeki.
Setidaknya, ada 89 pohon durian yang ditanam. Menjulang rapat. Jenisnya: musang king, duri hitam, masmuar, montong. Semuanya varietas unggulan.
Musim panen kali ini, 47 pohon durian di kebun Saputra telah berbuah. Hampir semuanya sudah berpemilik. Nama-nama pemesan tergantung rapi di batang. Seperti penanda janji.
Durian terbaik dibooking jauh hari. Salah satunya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan.
Tapi, ada juga yang disisakan. Tidak dijual semuanya. Beberapa disimpan untuk keluarga. Untuk makan bersama. Untuk rasa syukur.
“Alhamdulillah, ini panen ketiga,” ujar Saputra, Kamis (8/1/2026). Suaranya tenang. Senyumnya lebar. “Dari 89 pohon, 47 sudah bisa dipanen.”
Pembeli datang dari berbagai daerah. Ada warga lokal, ada yang dari Pontianak dan Ngabang. Tak sedikit pembeli yang datang, pulang dengan tangan kosong. Bukan karena harganya tak pas. Tapi stok memang terbatas.
“Beberapa terpaksa saya tolak. Takut tidak kebagian,” unjarnya.
Harga ditetapkan tanpa tawar-menawar. Kualitas menjadi jaminan. Duri Hitam dipatok Rp400 ribu per kilogram. Musang King dijual Rp300 ribu. Masmuar relatif lebih murah, Rp200 ribu.
Tak ada jasa antar. Semua harus datang ke kebun. Melihat langsung. Menunggu buah jatuh. Memilih sendiri. Sebagian durian pesanan Wakil Gubernur sudah diambil. Sebagian lagi masih menggantung. Dijadwalkan panen Januari 2026.
Namun, kisah kebun durian Saputra tak semudah yang terlihat. Tak sesederhana aroma manis raja buah. Ada ego yang harus ditaklukkan. Ada ragu yang mesti dikalahkan. Semua dimulai dari nol. Hanya doa dan ketulusan yang menuntut kesabaran.
Tujuh tahun lamanya Saputra merantau di Pulau Dewata. Menjadi sopir taksi. Mengejar setoran. Mengejar waktu. Hidup bergerak cepat.
Sampai suatu hari, panggilan pulang kampung datang. Orang tua sering sakit. Permintaan itu tak bisa ditawar.
“Saya diminta berhenti merantau,” ucapnya. “Akhirnya pulang. Tidak ada pekerjaan tetap.”
Sambil merawat orang tua, ia kembali ke tanah. Menjadi petani. Memulai dari yang paling dekat. Pekarangan belakang rumah digarap. Jeruk ditanam. Perlahan tumbuh. Perlahan menghasilkan.
Dari kebun jeruk itulah ekonomi keluarga bertahan. Juga dari sanalah mimpi baru disemai.
Saputra banyak belajar dari layar ponsel. Video YouTube tentang budidaya durian. Tentang kebun. Tentang wisata. Modalnya kecil. Sangat terbatas. Namun keberanian tumbuh lebih dulu.
“Untung ada jeruk,” ujarnya singkat.
Satu per satu durian ditanam. Dirawat. Ditunggu. Waktu berjalan. Pohon-pohon tumbuh subur. Berbuah. Prospeknya kian jelas. Ia pun menambah jumlah tanaman.
Beberapa pohon jeruk terpaksa ditebang. Lahan tak cukup menampung dua harapan besar sekaligus. Pilihan harus diambil. Kesabaran terus dirawat. Hingga hari ini, semuanya terbayar.
Pohon raja buah yang dirawat dengan hati dan harapan kini menghasilkan melimpah. Kebun tak pernah sepi. Pembeli datang silih berganti.
Warga berdatangan. Ada yang membeli durian. Ada yang mencari bibit. Ada pula yang sekadar melihat. Belajar. Menyerap inspirasi.
“Saya juga membibitkan durian,” kata Saputra. “Dari sinilah keluarga kami hidup.”
Di Dusun Dungun Perapakan, Saputra tak lagi mengemudi. Ia bertani. Meneguhkan kesabaran. Mencari keberkahan. Alam memberi peluang.
Ia membuktikan satu hal sederhana: pulang kampung dari rantauan juga bisa berkarya dan mapan. Di tanah sendiri, kerja keras tetap bisa tumbuh dan menjamin masa depan.***
Penulis : Antonia Sentia
Editor : Abdul Halikurrahman
Tags :

Leave a comment