Cerita Fitriyani Selamat dari Kebakaran, Dibangunkan Benda Jatuh, Rumah dan Usaha Ludes
SAMBAS, insidepontianak.com – Fitriyani belum mampu berbicara panjang. Suaranya masih pelan. Sesekali terhenti. Trauma belum sepenuhnya pergi dari benaknya.
Bagaimana tidak? Rumah tinggalnya kini tak lagi bisa dihuni. Luluh lantak. Hangus bersama 10 ruko lain dalam peristiwa kebakaran di Pasar Simpang Empat Sambas, Minggu (25/1/2026) dini hari.
Musibah itu datang tanpa tanda. Di tengah malam. Saat sebagian besar orang terlelap. Pada waktu itulah api mengamuk, tanpa ampun.
Kebakaran baru disadari Fitriyani setelah suara benturan keras memecah tidurnya. Ia tersentak dari lelap. Terperanjat.
Saat pintu kamar dibuka, api sudah menyala. Asap pekat menutup ruangan. Panas menyengat. Tak ada waktu berpikir. Ia berlari keluar lewat pintu depan.
Sang suami masih berada di lantai dua. Ia belum tidur. Terjebak. Asap kian pekat, perlahan menyumbat napas. Di bawah, api terus membesar.
“Suami saya tidak bisa turun,” tuturnya lirih.
Tak ada pilihan. Dengan sisa tenaga, sang suami mendobrak atap. Nasib masih berpihak. Ia berhasil keluar dari kepungan api yang terus merangsek naik.
Di tengah kepanikan, Fitriyani hanya sempat menyelamatkan satu unit sepeda motor di ruang tamu. Itu saja. Tak ada yang lain. Gerobak jualan apam pinangnya ikut ludes.
Ia memukul tiang listrik sekencang-kencangnya. Tujuannya membangunkan warga. Saat itu hujan gerimis pun turun. Namun hanya sebentar.
Angin kencang membuat api semakin ganas. Membara. Langit yang semula gelap seketika memerah.
Api cepat menjalar ke bangunan lain. Kian tak terkendali. Suara ledakan memecah malam. Diduga berasal dari tabung gas.
“Saat itu, saya hanya bisa pasrah. Api sudah tidak mungkin dikendalikan. Semuanya habis,” ucapnya.
Tak lama kemudian, petugas pemadam kebakaran dari Simpang Empat tiba di lokasi. Upaya pemadaman dilakukan, namun terkendala pasokan air.
Petugas harus bolak-balik mengisi ulang tangki. Di saat genting, air sungai sedang surut. Api terus berkobar. Pemadaman tak bisa dilakukan cepat.
Hampir empat jam berselang, petugas dibantu warga akhirnya mampu mengendalikan api. Kebakaran benar-benar padam sekitar pukul 07.00 WIB.
Saat fajar menyingsing, bangunan yang terbakar terlihat tinggal puing. Rata dengan tanah. Rumah Fitriyani yang berbahan kayu tak menyisakan apa pun. Kerugian diperkirakan mencapai Rp50 juta.
Pakaian habis. Perabot rusak. Barang elektronik seperti kulkas dan mesin cuci tak terselamatkan. Meski kehilangan harta benda, Fitriyani bersyukur masih bisa selamat dari musibah itu.
“Biasanya saya bangun jam enam pagi. Alhamdulillah waktu itu terbangun lebih cepat. Kalau tidak, mungkin kami ikut terbakar,” katanya.
Kini, ia hanya berharap ada perhatian. Ada uluran tangan. Bukan sekadar simpati, tetapi kepedulian nyata.
“Saya berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi kami,” pungkasnya.***
Penulis : Antonia Sentia
Editor : -

Leave a comment