Insiden Bom Molotov di SMP Sungai Raya, Kapolda Kalbar: Jangan Biarkan Anak Kita Tersesat Gadget dan Lingkungan

7 Februari 2026 10:15 WIB
Ilustrasi

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Insiden ledakan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya bukan hanya insiden kriminal biasa. 

Peristiwa ini menjadi alarm keras. Pengawasan terhadap anak-anak tak boleh lagi setengah-setengah. Terutama dalam penggunaan gadget dan lingkungan.

Terungkap fakta bahwa, yang siswa bersangkutan terpapar konten kekerasan, korban perundungan, dan tertekan karena masalah keluarga. 

Rentetan persoalan yang dihadapi itu menyisahkan beban psikologis. Akhirnya, rasa dendam tumbuh. 

Kemudian, ia bergabung dalam komunitas daring True Crime Community (TCC). Dari sana, tindakan nekat siswa itu bermula.

Di sini, peran semua pihak, baik itu orang tua, sekolah, hingga lingkungan menjadi kunci agar insiden itu tak terulang.

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Pipit Rismanto mengatakan, tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi bersama, terutama soal penggunaan gadget yang kian tak terbendung di kalangan pelajar.

“Kami mengimbau para orang tua untuk benar-benar memantau anak-anaknya. Apa yang dimainkan di handphone, kontennya seperti apa. Itu dimulai dari rumah,” imbau Pipit, Sabtu (7/2/2026).

Menurutnya, anak-anak seharusnya diarahkan pada kegiatan positif, bukan dibiarkan larut dalam dunia digital tanpa kontrol. 

Ekstrakurikuler, pembinaan minat, hingga pendampingan cita-cita dinilai penting agar masa depan generasi muda tidak terseret arus negatif.

“Kegiatan positif harus diperbanyak. Anak-anak ini perlu diarahkan sesuai potensi mereka,” ujarnya.

Pipit menambahkan, keterlibatan tokoh pemuda, tokoh adat, dan tokoh agama untuk ikut menyelamatkan generasi muda dari paparan kekerasan.

“Tolong bantu kondisi ini agar tidak terulang kembali. Berikan pencerahan, ceramah-ceramah yang positif kepada anak-anak kita,” tambahnya.

Di lingkungan sekolah, Pipit meminta, agar pengawasan diperketat. Guru diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku murid, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta menutup ruang bagi praktik perundungan.

“Jangan ada saling mengejek atau membuli. Anak-anak perlu dirangkul, bukan ditekan,” tegas Pipit.

Ia memastikan, bahwa Polda Kalbar akan mengerahkan personel untuk turun langsung ke sekolah-sekolah sebagai langkah pencegahan.

“Kami akan perintahkan anggota untuk memantau langsung ke sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, Pipit memastikan, langkah penegakan hukum adalah ultimum remedium (upaya terakhir). Pendekatan kemanusiaan dan pembinaan menjadi prioritas.

“Akar masalahnya yang harus diselesaikan dulu. Anak ini masih kecil, masih bisa dibina,” tegasnya.

Berdasarkan informasi, kata Pipit, siswa itu sebelumnya sempat dalam pemantauan. Namun, pengawasan melemah akibat persoalan keluarga yang berat, hingga membuat sang anak memikul beban di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan belajar.

“Masalah keluarga ini sangat mempengaruhi. Anak seusia itu sudah menanggung beban besar. Ini yang akan kami beri treatment khusus,” pungkasnya. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar