Apa Itu Pantang dan Puasa dalam Katolik? Ini Penjelasannya

26 Februari 2026 15:55 WIB
Pastor Kepala Paroki Paroki St. Agustinus Sungai Raya, RP. Donatus Jensi/IST

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Umat Katolik tengah menjalani masa Prapaskah selama 40 hari, terhitung sejak 18 Februari hingga 3 April 2026. 

Di masa ini, istilah puasa dan pantang kembali digaungkan. Tapi, sebenarnya apa maknanya?

Pastor Kepala Paroki Paroki St. Agustinus Sungai Raya, RP. Donatus Jensi mengatakan, bahwa puasa dalam Gereja Katolik berbeda dari yang banyak dipahami orang.

“Puasa itu makan kenyang satu kali sehari. Boleh makan atau minum ringan, tapi tidak sampai kenyang lagi,” jelasnya.

Artinya, umat tidak sepenuhnya menahan makan dan minum sepanjang hari. Yang ditekankan adalah pengendalian diri dan kesederhanaan hidup.

Lalu apa itu pantang?

Pantang berarti menahan diri dari makanan tertentu, terutama daging. Dalam masa Prapaskah, umat Katolik wajib menjalankan puasa dan pantang setiap Rabu dan Jumat.

“Rabu dan Jumat selama Prapaskah itu wajib. Makan kenyang satu kali dan tidak makan daging,” tegas Pastor Jensi.

Namun, menurutnya, esensi pantang dan puasa bukan berhenti di urusan perut. Justru yang paling penting adalah dampaknya bagi sesama.

“Kalau biasanya makan tiga kali lalu kita kurangi, harus ada yang dibagikan. Itu intinya. Mengurangi supaya bisa berbagi,” ujarnya.

Puasa, lanjutnya, juga bisa diterapkan pada hal-hal yang menjadi kesenangan pribadi. Misalnya mengurangi rokok, jajan berlebihan, atau pengeluaran konsumtif lainnya. Uang yang dihemat bisa disisihkan untuk membantu yang membutuhkan.

Bagi Pastor Jensi, Prapaskah adalah momen reset diri. Doa, amal, dan karya kasih menjadi fondasi utama. Kesederhanaan tanpa kepedulian, katanya, akan kehilangan makna.

“Puasa dan pantang itu soal hati. Bagaimana kita belajar sederhana dan peduli, supaya yang kekurangan juga bisa merasakan sukacita,” tutupnya. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar