BBM di Pesisir Kubu Raya Langka dan Mahal, Harga Eceran Tembus Rp18-20 Ribu Per Liter

16 Maret 2026 13:04 WIB
Polisi melaksanakan patroli di SPBU guna memastikan stok BBM aman jelang mudik Lebaran. (Istimewa)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Warga pesisir Kabupaten Kubu Raya mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Di Kecamatan Terentang, misalnya, BBM eceran sulit ditemukan. Jika ada, harganya mahal. Antara Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter.

Sementara, akses menuju SPBU juga tidak mudah. Kecamatan Terentang merupakan wilayah yang jauh dari pusat kota Kubu Raya.

“Kalau di sini beli eceran sudah Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per liter. Mau tidak mau tetap beli karena kebutuhan sehari-hari,” keluh seorang warga, Senin (16/3/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya sudah lama terjadi. Namun menjelang Lebaran, tekanan kebutuhan BBM semakin terasa. Sementara ketersediaannya tidak banyak.

Situasi itu berbeda jauh dengan kliam pemerintah yang memastikan stok BBM di wilayah Kabupaten Kubu Raya dalam kondisi mencukupi.

Awasi Distribusi

Kapolres Kubu Raya, Kadek Ary Mahardika, mengatakan pengawasan distribusi BBM terus diperketat. Tujuannya agar tidak terjadi penyelewengan yang dapat memicu kelangkaan.

Polisi bersama pihak terkait melakukan monitoring di sejumlah SPBU. Koordinasi juga dilakukan dengan pengelola SPBU dan Pertamina.

“Kami memastikan distribusi BBM tetap berjalan normal dan stok mencukupi selama masa mudik,” ujarnya.

Polisi juga memburu praktik penimbunan BBM. Termasuk kendaraan bertangki modifikasi atau yang dikenal sebagai tangki siluman.

“Jika ditemukan penimbunan BBM, kami akan menindak tegas sesuai hukum,” tegasnya.

Patroli rutin dilakukan untuk memantau antrean kendaraan di SPBU. Langkah ini untuk memastikan BBM digunakan oleh masyarakat yang membutuhkan.

“Kami tidak memberikan toleransi bagi pihak yang mencoba memanfaatkan situasi,” katanya.

Di sisi lain, warga pesisir menilai persoalan utama bukan hanya soal stok. Distribusi BBM dinilai belum merata.

Jarak SPBU yang jauh membuat warga pesisir bergantung pada pengecer. Kondisi ini membuat harga sulit dikendalikan.

Dampaknya terasa pada biaya transportasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.***

 


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar