BBM Langka di Batu Ampar, Warga Terpaksa Charter Speed Boat Rp3 Juta Rujuk Ibu Melahirkan
KUBU RAYA, insidepontianak.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, tak hanya memicu kenaikan tarif transportasi, tetapi juga mulai mengancam layanan kesehatan masyarakat.
Pasalnya, seorang warga yang hendak melahirkan terpaksa menyewa transportasi air darurat hingga lebih dari Rp3 juta akibat sulitnya mendapatkan BBM.
"Ini sudah bukan sekadar masalah transportasi,” kata Camat Batu Ampar, Alfian, Selasa (17/3/2026).
Alfian menyebut, kondisi tersebut menjadi bukti nyata bahwa krisis BBM di wilayah pesisir kini telah berdampak luas dan mendesak untuk segera ditangani pemerintah.
“Kemarin ada ibu-ibu mau melahirkan, akhirnya tidak bisa diangkut karena BBM tidak ada. Terpaksa charter tengah malam, biayanya lebih dari Rp3 juta," ungkapnya.
Menurutnya, kelangkaan BBM terjadi sejak Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau depo Pertamina terapung di Batu Ampar berhenti beroperasi sejak, Sabtu (14/3/2026) lalu.
Padahal, wilayah tersebut sangat bergantung pada distribusi BBM jalur perairan untuk aktivitas harian masyarakat di 15 desa.
Alfian menegaskan, kondisi Batu Ampar berbeda dengan wilayah lain yang masih tergolong aman pasokan BBM.
Di daerahnya, masyarakat bahkan kesulitan mendapatkan BBM meski harga sudah melonjak hingga Rp22 ribu per liter di tingkat pengece.
“Kita sekarang darurat BBM. Barangnya langka, bukan hanya mahal tapi memang tidak ada,” katanya.
Situasi ini diperparah dengan perubahan sistem distribusi BBM yang menyebabkan pangkalan lokal tidak lagi beroperasi, sementara jalur suplai alternatif belum berjalan optimal.
Kelangkaan BBM langsung memicu kenaikan tarif angkutan air yang menjadi tulang punggung mobilitas warga pesisir. Dalam lima hari terakhir, tarif speedboat meningkat hingga 30 persen.
Ongkos transportasi speed boat rute Rasau-Padang Tikar yang sebelumnya Rp130 ribu naik menjadi Rp160 ribu, sementara rute lainnya mencapai Rp200 ribu per perjalanan.
“Kenaikan ini pasti terjadi karena operator kesulitan BBM. Kalau tidak segera ada solusi, motor air juga akan naik tarifnya,” jelas Alfian.
Ia khawatir lonjakan biaya transportasi akan semakin membebani masyarakat menjelang Lebaran, saat mobilitas warga meningkat drastis.
Alfian menjelaskan penghentian distribusi BBM dipicu kekhawatiran penyalur setelah adanya laporan dugaan penimbunan yang ditindak aparat penegak hukum.
Pengawasan ketat membuat distribusi menggunakan jeriken metode umum di wilayah perairan ikut terhenti.
Sebab, di daerah pesisir, kata Alfian, BBM memang harus diangkut pakai jeriken karena aksesnya air.
“Tapi sekarang penyalur takut karena ada pengawasan,” ujarnya.
Pemerintah kecamatan telah menyurati pemerintah kabupaten dan meminta Pertamina segera membuka kembali jalur distribusi dari depo Siantan agar pasokan BBM bisa kembali masuk ke Batu Ampar.
Alfian berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan aparat dapat duduk bersama mencari solusi cepat sebelum puncak arus mudik Lebaran.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Yang penting sekarang masyarakat bisa mendapatkan BBM dan aktivitas kembali normal,” pungkasnya.***
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment