Diduga Dicekik Teman Sekolah Pakai Tali Rafia MBG, Siswi di Kubu Raya Pingsan

14 Mei 2026 16:30 WIB
Siswi di Kubu Raya saat menunjukkan bekas lilitan tali rafia yang dilakukan oleh teman di sekolah. (Ist)

KUBU RAYA, insidepontianak.com - AE, siswi kelas V di Madrasah Ibtidaiyah Fathurrahman, Kabupaten Kubu Raya, diduga menjadi korban perundungan oleh tiga teman sekelasnya berinisial IB, RO dan AD.

Korban disebut dicekik menggunakan tali rafia yang berasal dari pengikat rantang program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga pingsan.

Orang tua korban, Syarifah, mengatakan peristiwa itu terjadi saat jam belajar berlangsung pada, Rabu (13/5/2026).

Awalnya, ia mendapat informasi dari guru kelas yang meminta dirinya segera menjemput anaknya, karena sedang sakit.

“Saya dapat info dari guru, katanya anak saya tak enak badan dan minta dijemput,” kata Syarifah saat ditemui di kediamannya, Kamis (14/5/2026).

Namun tak lama kemudian, ia mendapat kabar dari orang tua teman anaknya bahwa AE diduga dicekik oleh teman laki-lakinya menggunakan tali rafia.

“Mama kawannya kasih tahu kalau AE habis dicekik,” ujarnya.

Mendengar hal tersebut, Syarifah langsung menanyakan kejadian itu kepada anaknya sembari merekam video.

Dari pengakuan korban, ia mengetahui AE sempat pingsan dan muntah-muntah usai kejadian.

“Kata anak saya, dia sampai pingsan dan muntah-muntah,” ucapnya.

Syarifah juga mengaku menemukan bekas memar merah di bagian leher anaknya yang diduga akibat lilitan tali rafia.

Tak terima dengan kejadian itu, ia kemudian menghubungi pihak sekolah untuk meminta penjelasan. 

Namun menurutnya, pihak sekolah terkesan tidak terbuka terkait insiden yang dialami anaknya.

“Pihak sekolah tampak tak mau kasih tahu yang sebenarnya,” tambahnya.

Ia lalu meminta agar segera dilakukan pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua para pelaku. 

Awalnya, pertemuan dijadwalkan pada Jumat (15/5/2026) dengan alasan hari Kamis libur.

“Alasannya karena hari Kamis libur jadi baru bisa Jumat,” lanjutnya.

Kesal, Syarifah kemudian mengunggah video kondisi anaknya ke media sosial sambil menceritakan kronologi kejadian.

Tak lama berselang, video tersebut viral. Setelah itu, pihak sekolah langsung mengubah jadwal dan meminta pertemuan dilakukan pada hari yang sama sekitar pukul 17.00 WIB.

“Pihak sekolah langsung meminta pertemuan segera sekitar jam 5 sore,” katanya.

Meski telah dilakukan mediasi, Syarifah mengaku tidak puas dengan sanksi yang diberikan kepada para pelaku. 

Menurutnya, ketiga siswa tersebut hanya mendapat surat peringatan pertama (SP1) dan hukuman dijemur di lapangan selama satu jam.

“Saya tidak puas dengan sanksi yang diberikan oleh pihak sekolah,” tegasnya.

Ia berharap dunia pendidikan lebih serius dan tegas dalam menangani kasus perundungan di lingkungan sekolah.

“Saya pengen stop membuli di sekolah itu. Katanya paling sering terjadi, cuma sekolah ini tak mau jujur,” pungkasnya. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar