Kasus Bullying Siswi SD di Kubu Raya Viral, DPRD Usul Bentuk Tim Anti-Kekerasan

14 Mei 2026 16:36 WIB
Ketua Komisi IV DPRD Kubu Raya, Muhammad Amri/IST

KUBU RAYA, insidepontianak.com - Dugaan kasus bullying terhadap siswi kelas V SD (AE) di Madrasah Ibtidaiyah Fathurrahman, Kubu Raya mendapat sorotan dari Komisi IV DPRD Kubu Raya.

Ketua Komisi IV DPRD Kubu Raya, Muhammad Amri menegaskan, kasus tersebut menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan, agar memperkuat sistem pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.

Di antaranya, melalui pelatihan guru Bimbingan Konseling (BK) dan pembentukan tim anti-kekerasan.

"Sekolah perlu memperkuat pengawasan, termasuk meningkatkan kemampuan guru BK dalam menangani persoalan kekerasan terhadap anak,” kata Amri kepada insidepontianak.com, Kamis (14/5/2026).

Menurut Amri, perundungan terhadap anak tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele, karena dapat berdampak pada kondisi mental maupun psikologis korban.

“Kasus bullying ini harus menjadi evaluasi bersama," tegasnya.

Ia mengatakan, guru BK memiliki peran penting dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa maupun memberikan pendampingan terhadap korban perundungan. 

Karena itu, pelatihan khusus dinilai perlu dilakukan agar penanganan kasus bisa lebih efektif.

Selain itu, ia juga mendorong setiap sekolah membentuk tim anti-kekerasan yang melibatkan unsur guru dan pihak sekolah guna mencegah terjadinya bullying.

“Tim ini penting agar ada mekanisme pengawasan dan penanganan yang jelas ketika terjadi dugaan kekerasan di sekolah,” ujarnya.

Terkait kasus yang terjadi, Amri meminta pihak sekolah bersama Kementerian Agama segera melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan kronologi kejadian.

Ia juga meminta korban mendapatkan pendampingan psikologis agar tidak mengalami trauma berkepanjangan.

“Anak yang menjadi korban harus benar-benar diperhatikan kondisi mentalnya. Jangan sampai dampak psikologisnya berlanjut,” tutur ketua fraksi PKS DPRD Kubu Raya itu.

Di samping itu, ia mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam memantau perkembangan perilaku anak, terutama setelah berada di lingkungan sekolah.

Sebab, menurutnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat membantu mendeteksi lebih awal apabila terjadi tindakan perundungan.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang, bukan menjadi tempat yang menimbulkan rasa takut,” tutup Amri. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar