7.800 Anak di Landak Tak Tuntas Sekolah, KGBN Landak: Pendidikan Butuh Kerja Bersama
LANDAK, Insidepontianak.com - Di balik ruang-ruang kelas yang setiap hari dipenuhi aktivitas belajar, masih ada ribuan anak di Kabupaten Landak yang justru tak lagi duduk di bangku sekolah.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Landak, jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Landak mencapai sekitar 7.796 anak.
Angka itu menjadi pengingat bahwa masih banyak anak yang belum memperoleh hak dasar mereka atas pendidikan.
Ketua Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Kabupaten Landak, Andry Steven Manongga, mengatakan angka tersebut bukan sekadar statistik.
Di baliknya ada ribuan anak yang berisiko kehilangan kesempatan membangun masa depan melalui pendidikan.
Karena itu, Andry menyambut baik peluncuran Program Gerbang Asa (Gerakan Bangkit Anak Putus Sekolah) yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Landak beberapa waktu lalu.
Menurutnya, program tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah dalam memastikan anak-anak yang sempat putus sekolah memiliki kesempatan untuk kembali belajar.
"Kami memberikan apresiasi atas diluncurkannya Gerbang Asa," kata Andry, Selasa (7/7/2026).
Namun, menurutnya, mengembalikan ribuan anak ke bangku sekolah bukan pekerjaan yang bisa dipikul guru maupun sekolah semata.
Persoalan putus sekolah merupakan masalah yang kompleks karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi, lingkungan keluarga, hingga minimnya dukungan di sekitar anak.
Karena itu, ia menilai keberhasilan Gerbang Asa sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, orang tua, pemerintah desa, hingga masyarakat.
Kerja sama tersebut juga diperlukan agar pendataan anak putus sekolah dapat berjalan lebih akurat dan upaya pendampingan bisa dilakukan secara tepat sasaran.
"Semua stakeholder, baik pemerintah, orang tua, masyarakat, kepala desa, maupun lingkungan sekitar harus bekerja sama memastikan setiap anak memperoleh hak mendapatkan pendidikan yang layak," ujarnya.
Andry mengatakan, pengalamannya sebagai guru membuat ia memahami bahwa pendidikan tidak pernah berhenti di pagar sekolah.
Guru hanya mendampingi anak selama beberapa jam setiap hari, sementara sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama keluarga dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Karena itu, keputusan seorang anak untuk tetap bersekolah atau justru berhenti sering kali lebih banyak dipengaruhi oleh dukungan dari rumah dan lingkungan sekitar daripada proses belajar di kelas.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya diukur dari kerja keras guru. Tanpa dukungan keluarga, pemerintah, dan masyarakat, berbagai upaya yang dilakukan sekolah kerap menemui jalan buntu.
"Guru tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan dukungan orang tua, pemerintah, dan masyarakat agar anak-anak tetap berada di jalur pendidikan," tuturnya.
Ia berharap Gerbang Asa tidak berhenti sebagai program pemerintah semata, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk mencari, merangkul, dan mengembalikan anak-anak yang putus sekolah ke dunia pendidikan.
"Kalau dari sudut pandang guru, hadirnya Gerbang Asa ini sangat urgen. Pendidikan bisa terlaksana dengan baik apabila seluruh pelaku pendidikan saling bekerja sama," pungkasnya. (*)
Penulis : Ya Wahyu
Editor : -
Tags :

Leave a comment