Di Forum TPN XIII, Guru-guru di Landak Matangkan Ekosistem Belajar Modern
LANDAK, insidepontianak.com – Meningkatkan kualitas pendidikan tak cukup sekadar mengandalkan kebijakan baru.
Di Kabupaten Landak, para pengajar dituntut terus beradaptasi dengan lompatan teknologi dan perubahan cara belajar anak zaman sekarang.
Kesadaran itulah yang mendorong terselenggaranya forum Temu Pendidik Nusantara (TPN) XIII 2026 sebagai wadah diskusi merumuskan strategi peningkatan kualitas pengajar.
Kegiatan itu digelar di Aula Kantor Bupati Landak, pada Sabtu (11/7/2026). Diinisiasi oleh Guru Belajar Foundation. Diikuti 387 guru serta kepala sekolah dari jenjang TK hingga SMA sederajat.
Mereka berkolaborasi dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) setempat, serta didukung penuh oleh pemerintah daerah dan Kemenag.
Forum itu bertajuk, “Cita-Cita Kolektif: Kewargaan Desa Dunia." Semangatnya, membangkitkan tanggung jawab bersama dalam memajukan dunia sekolah.
Kabupaten Landak sudah dua kali ditunjuk menjadi tuan rumah. Di kegiatan kedua ini pun pesertanya jauh lebih ramai.
"Antusiasme peserta menunjukkan semangat guru di Landak untuk terus belajar dan berkembang," ujar Ketua KGBN Landak, Andry Steven Manongga.
Baginya, tema yang diusung tahun ini bukan sekadar tagline. Namun, menjadi pemantik untuk membangun ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
"Kami berharap TPN menjadi ruang yang menguatkan guru untuk menghadirkan pembelajaran yang tepat bagi anak didik," tambahnya.
Semangat bertukar ilmu ini langsung dituangkan ke dalam berbagai kelas intensif. Salah satunya lewat sesi Bincang Pendidikan bertajuk "Dari Landak untuk Dunia: Membangun Pendidikan Melalui Kolaborasi."
Diskusi yang dipandu Deni Ariyadi itu menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Samsul Bahri, Shadiqin dari Kemenag, dan Debora Nuraini, guru SMAS Makedonia yang sempat mencuri perhatian lewat pengalamannya mengikuti Study Visit kecerdasan buatan (AI) di China.
Dalam forum tersebut, mereka menguliti potret nyata, peluang, hingga tantangan sekolah di era digital.
Sinergi antara birokrasi dan praktisi lapangan dinilai menjadi kunci utama agar ruang kelas tidak ketinggalan zaman tanpa kehilangan identitas lokal.
Tak hanya teori, praktik nyata juga dibagikan di Kelas Pendidik. Dua guru kreatif, Khikmah Muliati (MAN Landak) dan Dede Melda (SMPN 5 Jelimpo), membeberkan resep rahasia menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Sementara di Kelas Pemimpin, Kepala SMAN 1 Ngabang Kornelia Katorowilian bersama Kepala SDN 28 Gasing Fransiska Evin, membagikan strategi mengelola sekolah. Mereka fokus pada kepemimpinan yang merangsang inovasi dan kekompakan para guru.
Di akhir acara, Andry berpesan agar api semangat ini tidak padam begitu saja setelah forum bubar. Ia ingin para peserta naik kelas.
"Harapan kami, guru terus berkembang menjadi Guru Berdaya yang menggerakkan sekolah, dan Guru Berdampak yang menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat," pungkasnya.***
Penulis : Wahyu
Editor : -
Tags :

Leave a comment