Wali Kota Pontianak Tekankan Pentingnya Sinergi Angkutan Truk Dukung Distribusi Barang

29 Januari 2026 12:43 WIB
Ketua DPD APTRINDO Kalimantan Barat, Muhammad Andi, memberikan cinderamata kepada Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono usai membuka Musda II APTRINDO. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan satu hal mendasar: distribusi barang tak boleh tersendat.

Kuncinya ada pada sinergi. Terutama di sektor angkutan truk yang menjadi tulang punggung pergerakan logistik.

Penegasan itu disampaikan Edi saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) II Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Kalimantan Barat di Hotel Grand Mahkota Pontianak, Rabu (28/1/2026).

Menurut Edi, sistem distribusi dan angkutan barang adalah urat nadi perekonomian. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa di masyarakat. Harga naik. Pasokan terhambat. Aktivitas ekonomi melambat.

“Kalau distribusi tersumbat, roda ekonomi ikut terganggu. Ini sangat terasa bagi daerah yang masih berkembang seperti Pontianak dan Kalimantan Barat,” ujarnya.

Ia menekankan, transportasi yang sehat tak bisa dilepaskan dari penataan ruang. Tata ruang kota dan wilayah harus menjadi pijakan utama. Aturan sudah tersedia.

Mulai dari Undang-Undang Penataan Ruang hingga Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK), yang dirinci lagi dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Edi kemudian menyinggung sejarah transportasi Pontianak. Kota ini tumbuh di tepi Sungai Kapuas.

Sungai terpanjang di Indonesia itu pernah menjadi jalur utama distribusi. Kapal mengangkut hasil bumi dan kebutuhan pokok. Ekonomi bergerak dari air.

Seiring waktu, pola distribusi berubah. Angkutan semakin modern. Kontainer menjadi keniscayaan.

Di titik ini, peran angkutan truk menjadi sangat vital. Baik untuk distribusi antar daerah, antar pulau, hingga mendukung arus barang keluar dan masuk negeri.

“Angkutan truk sekarang memegang peran strategis,” kata Edi.

Namun ia tak menutup mata. Tantangan di lapangan masih besar. Sistem lalu lintas belum ideal. Infrastruktur jalan terbatas. Jalur angkutan berat, sedang, dan ringan masih bercampur.

“Angkutan berat seperti trailer seharusnya punya jalur tersendiri. Tapi faktanya, di Pontianak dan Kalbar, semua masih bercampur,” ujarnya.

Kondisi ini, lanjut Edi, bukan hanya soal ketertiban lalu lintas. Ini soal keselamatan. Juga soal efisiensi distribusi.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur transportasi membutuhkan investasi besar dan harus sejalan dengan rencana tata ruang yang sudah ditetapkan.

Masalah serupa, kata dia, juga terjadi di banyak kota besar di Indonesia. Karena itu, solusi tak bisa parsial.

Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, asosiasi angkutan, dan seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya satu: sistem transportasi yang aman, tertib, dan berkelanjutan.

Ketua DPD APTRINDO Kalimantan Barat, Muhammad Andi, mengamini hal tersebut. Menurutnya, tantangan logistik di Kalbar semakin kompleks. Mulai dari transisi regulasi angkutan hingga tuntutan pelayanan di era digital.

Meski begitu, ia optimistis. APTRINDO, kata Andi, siap menjawab tantangan melalui semangat kebersamaan dan kolaborasi antarpelaku usaha.

“Logistik adalah urat nadi ekonomi. Jika sistemnya kuat dan tangguh, dampaknya langsung ke pertumbuhan daerah dan nasional,” ujarnya.

Ia menutup dengan optimisme. Sistem transportasi yang solid, katanya, bukan hanya menopang ekonomi hari ini, tetapi juga menjadi fondasi menuju Indonesia Emas.

“Bukan sekadar impian. Itu kepastian yang bisa kita wujudkan bersama, khususnya di Bumi Khatulistiwa,” pungkasnya.***


Penulis : Prokopim
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar