Tradisi Imlek dan Asal Usul Cap Go Meh

2 Maret 2026 13:48 WIB
Perayaan Imlek di Pontianak meriah dengan atraksi naga dan barongsai. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Perayaan Tahun Baru Imlek tidak berhenti pada hari pertama. Rangkaian perayaan berlangsung selama 15 hari dan ditutup dengan Cap Go Meh.

Tahun ini, Cap Go Meh jatuh pada Selasa (3/3/2026). Di Pontianak dan Singkawang, perayaan ini bahkan telah masuk dalam kalender agenda wisata budaya nasional, karena daya tarik tradisinya yang khas dan konsisten digelar setiap tahun.

“Cap Go Meh bukan sekadar festival lampion. Ini adalah penutup resmi rangkaian Imlek yang sarat makna spiritual dan budaya,” ujar Ketua Umum Kaum Muda Tionghoa (KMT) Kalimantan Barat, Steven Greatness, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang berarti malam kelima belas, merujuk pada tanggal 15 bulan pertama dalam penanggalan Imlek.

Di Tiongkok, perayaan tersebut dikenal sebagai Yuan Xiao Jie atau Festival Lampion. Menurut Steven, ada beberapa versi mengenai asal-usulnya.

Dalam catatan sejarah, festival ini telah dirayakan sejak Dinasti Han sebagai penutup resmi Tahun Baru Imlek.

“Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang. Ada versi yang berkaitan dengan Dinasti Han, ada pula yang dikaitkan dengan kepercayaan Taoisme dan Buddhisme,” jelasnya.

Dalam tradisi Taoisme, hari ke-15 bulan pertama dikenal sebagai San Yuan, hari kelahiran Dewa Langit yang diyakini membawa berkah bagi manusia.

Sementara dalam tradisi rakyat, kebiasaan menyalakan lampion dipercaya berawal dari praktik para petani pada masa Dinasti Zhou. Mereka memasang lampu di ladang untuk mengusir hama sekaligus membaca tanda perubahan cuaca.

“Dari tradisi sederhana itu kemudian berkembang menjadi festival besar dengan lampion, barongsai, dan arak-arakan,” katanya.

Ia menambahkan, sajian khas Yuan Xiao atau Tang Yuan yang berbentuk bulat juga memiliki makna filosofis mendalam.

“Yuan Xiao melambangkan kebersamaan dan persatuan keluarga. Itu inti perayaan Imlek yang ditegaskan kembali pada malam Cap Go Meh.”

Di Indonesia,perayaan ini berkembang menjadi tradisi budaya yang khas dengan atraksi tatung dan barongsai.

Kehadirannya bukan hanya ritual komunitas, tetapi telah menjadi identitas daerah yang memperkaya khazanah budaya nasional.

“Di Kalbar, perayaan ini bukan hanya milik satu komunitas, tetapi sudah menjadi bagian dari wajah budaya daerah,” pungkasnya.

Cap Go Meh pada akhirnya bukan sekadar pesta lampion. Ia adalah simbol penutup, simbol persatuan, dan penegasan warisan budaya yang terus hidup lintas generasi.***


Penulis : Dina Prihatini Wardoyo
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar