Waspada Hantavirus, Jaga Kebersihan Lingkungan dan Berantas Sarang Tikus

14 Mei 2026 16:51 WIB
Ahli epidemiologi dan pemerhati kesehatan masyarakat, Prof Malik Saepudin. (Istimewa)

POTIANAK, insidepontianak.com — Penularan Hantavirus yang menyebabkan seorang warga di Kabupaten Ketapang meninggal dunia menjadi perhatian serius.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang tikus.

Ahli epidemiologi dan pemerhati kesehatan masyarakat, Prof Malik Saepudin, menegaskan Hantavirus tidak boleh dianggap sepele.

“Karena dapat memicu gangguan kesehatan berat hingga kematian,” ucapnya, Kmasi (14/5/2026).

Karena itu, masyarakat perlu memahami Hantavirus secara proporsional. Virus ini berbeda dengan Covid-19 atau influenza yang mudah menular melalui percakapan dan kontak sosial biasa.

“Penularan Hantavirus lebih banyak berasal dari paparan tikus yang terinfeksi, terutama melalui urin, kotoran, air liur, atau debu yang tercemar,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kasus yang ditemukan di Ketapang harus menjadi alarm kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat atau rodensia.

Prof Malik menjelaskan, infeksi Hantavirus umumnya diawali gejala mirip flu, seperti demam, menggigil, nyeri otot terutama di paha dan punggung, serta sakit kepala.

Gejala biasanya muncul dalam rentang satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus.

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas akibat cairan di paru-paru, hingga gagal ginjal.

“Pada sebagian kasus, penyakit ini dapat berkembang cepat menjadi gangguan serius pada paru maupun ginjal,” tegasnya.

Menurut dia, penularan paling sering terjadi saat seseorang membersihkan area yang tercemar kotoran tikus tanpa prosedur aman.

Ketika urin atau feses tikus mengering, partikel virus dapat bercampur dengan debu lalu terhirup manusia.

Aktivitas berisiko antara lain membersihkan gudang tertutup, membongkar barang lama, menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering, atau bekerja di area yang banyak tikus.

“Tikus yang tampak sehat sekalipun bisa menjadi pembawa virus. Karena itu, semua jejak tikus harus dianggap berisiko,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu atau divakum saat kering karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.

Prof Malik menilai langkah paling penting untuk mencegah penyebaran Hantavirus adalah memperkuat sanitasi lingkungan dan kebersihan rumah tangga.

Rumah, gudang, dapur, pasar, hingga tempat penyimpanan pangan diminta dijaga agar tidak menjadi sarang tikus.

Area yang tercemar sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan menggunakan sarung tangan dan masker.

Selain itu, pemerintah daerah juga diminta memperkuat penyelidikan epidemiologi, edukasi masyarakat, dan pengendalian tikus secara terpadu.

“Kasus ini harus menjadi momentum memperkuat surveilans zoonosis dan sanitasi lingkungan. Fokusnya memutus paparan manusia terhadap tikus dan lingkungan yang terkontaminasi,” ujarnya.

Meski demikian, masyarakat diimbau tidak panik berlebihan karena risiko utama penularan berasal dari lingkungan yang tercemar tikus, bukan dari interaksi sosial dengan pasien.

“Pesan kesehatan masyarakat harus jelas: waspada, tetapi jangan panik. Pencegahan dimulai dari kebersihan rumah dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.***


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar