Dua Nyawa Satu Keluarga, Dipisahkan oleh Laut, Dipertemukan di Keabadian

17 Februari 2026 22:28 WIB
Foto mendiang Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sambas, Ilham Jamaludin dan anaknya, Adzin Abrar Alfarizi (20). (Insidepontianak.com/Radit)

SAMBAS, insidepontianak.com — Langit seperti ikut berduka. Awan mendadak muram. Hujan turun deras sesaat setelah pemakaman Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sambas, Ilham Jamaludin, selesai dilangsungkan, Selasa (17/2/2026).

Prosesi pemakaman berlangsung selepas salat Dzuhur. Ratusan pelayat memadati Taman Makam Pahlawan Sungai Rambah. Barisan seragam dinas berdiri rapat mengantar Ilham ke peristirahatan terakhir.

Doa pun mengalun lirih. Perlahan, tanah menutup liang lahat. Tangis keluarga sesenggukan. Wajah-wajah tertunduk. Bupati Sambas, Satono, turut larut dalam duka.

Ilham mangkat di usia 49 tahun. Relatif masih muda. Ia berpulang sebagai pejuang. Setidaknya bagi keluarganya. Ia tenggelam saat berusaha menyelamatkan putranya, Adzin Abrar Alfarizi (20), yang terseret ombak saat mandi di Pantai Temajuk, Senin sore. 

Saat ditemukan, Ilham sudah tak sadarkan diri. Ia segera dievakuasi ke puskesmas terdekat. Tindakan medis diberikan. Namun takdir tak dapat ditahan. Ajal menjemput saat waktu Magrib tiba.


Prosesi pemakaman Kasatpol PP Sambas, Ilham Jamaludin di Taman Makan Pahlawan Sungai Rambah, Selasa (17/2/2026). (Antonia Sentia) 

Sang Andalan 

Bupati Satono merasa kehilangan sosok andalan. Ilham dikenal sebagai penegak regulasi sekaligus penjaga marwah pemerintah daerah. Selalu hadir saat dibutuhkan.

“Empat tahun almarhum memimpin Satpol PP, beliau tidak pernah lalai menjalankan tugas,” ujar Satono.

Ilham dikenal sedikit bicara. Disiplin. Datang paling awal, pulang paling akhir. Kinerjanya terukur. Tercatat. Rapi. Kebiasaan yang ia jaga sejak menjabat sebagai humas pemda, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, hingga Kasatpol PP.

Di bawah kepemimpinannya, aturan ketertiban umum ditegakkan tanpa kompromi. Tegas. Berintegritas. Yang salah ditindak. Yang keliru dibina.

Akhir tahun lalu misalnya. Kafe remang-remang yang meresahkan warga ditertibkan tanpa ragu. Remaja yang terjaring dibina. Orang tua yang lalai diingatkan. Ketegasan itu menjadi teladan. Setidaknya bagi anak buah yang ditinggalkan.

“Atas nama pemerintah daerah, kami berterima kasih atas pengabdian terbaik beliau,” ucap Satono.


Jenazah Adzin Abrar Alfarizi (20) telah dievakuasi untuk dibawa ke rumah duka. (Istimewa). 

Anak Datang Menyusul

Tanah makam Ilham masih basah. Air mata keluarga belum kering. Sesak belum reda. Namun duka kembali datang. Adzin Abrar Alfarizi akhirnya ditemukan. Namun nyawanya juga tak tertolong.

Jasad Adzin terdampar di area Villa Crab, pesisir Pantai Temajuk, sekitar pukul 14.30 WIB. Pencarian berlangsung sehari semalam, melibatkan warga dan tim penyelamat.

“Jenazah langsung dibawa ke rumah duka di Sambas,” ujar Kepala Desa Temajuk, Agil kepada Insidepontianak.com.

Cuaca sempat menghambat pencarian Adzin. Ombak tinggi. Angin kencang. Di tengah tantangan, tim SAR gabungan terus menuntaskan misi kemanusiaan hingga korban ditemukan.

Kini jenazah sudah tiba di kediaman keluarga, bersamaan dengan persiapan tahlilan malam pertama sang ayah. Duka yang datang beruntun, menguji kesabaran atas kehendak-Nya.

Ilham Jamaludin telah menepati janjinya: menjaga keluarga hingga napas terakhir. Dan Adzin, kembali kepada ayahnya—dalam diam, dalam keabadian yang sama.

Selamat jalan, ayah dan anak.

Turut berduka bagi yang ditinggalkan.***


Penulis : Antonia Sentia
Editor : Abdul Halikurrahman

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar