Dibangun Sejak 1951 Jembatan Lintang Suri di Sambas Memprihatinkan, Warga Minta Bangunan Permanen
SAMBAS, insidepontianak.com – Kondisi Jembatan Lintang Suri di Desa Lubuk Dagang, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, kini semakin memprihatinkan.
Jembatan yang menjadi penghubung penting bagi aktivitas masyarakat itu dinilai sudah tidak layak dan membutuhkan pembangunan permanen agar dapat digunakan dengan aman.
Jembatan yang diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1951 tersebut memiliki panjang sekitar 84 meter dengan lebar kurang lebih 2,5 meter. Hingga kini sebagian besar struktur jembatan masih menggunakan material kayu ulin yang sudah berusia puluhan tahun.
Kepala Dusun Dagang Barat, Hadini, mengatakan jembatan tersebut memang pernah diperbaiki beberapa tahun lalu melalui swadaya masyarakat bersama pemerintah desa. Namun, perbaikan yang dilakukan saat itu hanya pada sebagian kecil badan jembatan.
“Beberapa tahun yang lalu pernah direnovasi sekitar 20 meter oleh warga dan desa dengan cor semen. Tetapi untuk tiang pondasinya masih menggunakan yang lama, yaitu tiang kayu ulin,” ujarnya.
Menurut Hadini, keberadaan jembatan tersebut sangat vital bagi aktivitas masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Banyak warga yang memiliki lahan di kawasan tersebut sehingga jembatan menjadi jalur utama untuk mobilitas hasil pertanian.
Ia menjelaskan, tidak hanya warga Desa Lubuk Dagang yang memanfaatkan jembatan itu. Warga dari sejumlah desa sekitar seperti Desa Lumbang, Desa Dalam Kaum, Desa Tumok Magis, hingga desa lainnya juga kerap melintasi jembatan tersebut untuk menuju lahan perkebunan dan pertanian mereka.
“Jembatan ini merupakan urat nadi bagi aktivitas pertanian dan perkebunan warga. Banyak masyarakat yang memiliki lahan di sana, baik warga Lubuk Dagang maupun dari desa sekitar,” jelasnya.
Harapan agar jembatan tersebut segera dibangun secara permanen juga disampaikan Kepala Desa Lubuk Dagang, Suaib. Ia mengungkapkan bahwa jembatan tersebut dulunya dikenal dengan nama Jembatan Godang karena di sekitar kawasan itu pernah berdiri pabrik pengolahan karet.
Menurutnya, usia jembatan yang sudah sangat lama membuat kondisinya kini semakin mengkhawatirkan.
“Jembatan ini sudah cukup lama keberadaannya dan sekarang kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Suaib.
Ia menegaskan bahwa jembatan tersebut memiliki peran penting dalam mendukung akses transportasi menuju lahan pertanian dan perkebunan, sekaligus menunjang aktivitas perekonomian masyarakat.
Namun dengan kondisi yang semakin rapuh, penggunaan jembatan kini menjadi tidak maksimal dan bahkan berpotensi membahayakan warga yang melintas.
“Kondisi jembatan sekarang bisa dikatakan kurang layak. Ini berdampak kepada masyarakat karena merupakan jalur transportasi utama. Bahkan rawan patah atau roboh sehingga berbahaya bagi kendaraan, terutama sepeda motor,” ungkapnya.
Suaib juga mengakui keterbatasan anggaran desa menjadi kendala utama untuk melakukan pembangunan jembatan secara permanen.
Karena itu, ia berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun instansi terkait agar jembatan tersebut dapat segera dibangun dengan konstruksi yang lebih kuat dan aman.
“Kondisi anggaran desa terbatas sehingga cukup berat jika harus membangun sendiri. Kami berharap pemerintah atau instansi terkait dapat membantu membangunkan jembatan ini agar masyarakat bisa menggunakannya dengan aman, lancar, dan lebih mudah,” pungkasnya. (*)
Penulis : Antonia Sentia
Editor : Wati Susilawati
Tags :

Leave a comment