PLN Panen Bandeng Budidaya Silvofishery di Kuala Satong, Warga Untung Mangrove Terjaga

5 Juni 2026 16:50 WIB
Proses panen menggunakan jaring. (Istimewa)

KETAPANG, insidepontianak.com – PLN UP3 Ketapang kembali menunjukkan komitmennya mendorong pembangunan berkelanjutan lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Komitmen itu diwujudkan melalui panen perdana ikan bandeng hasil budidaya program silvofishery di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, pada Jumat (5/6/2026).

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara PLN bersama Mitra Pembangunan Ketapang (MPK).

Mitra tersebut di antaranya, Pemerintah Kabupaten Ketapang, Pemerintah Desa Kuala Satong, kelompok nelayan, dan kelompok perempuan peduli mangrove.

Panen perdana tersebut dihadiri Manager PLN UP3 Ketapang Yusrizal Ibrani, unsur Forkopimda, dan para stakeholder.

Melalui program silvofishery, budidaya perikanan dipadukan dengan pelestarian mangrove. Pendekatan ini memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.

Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memperoleh sumber pendapatan baru. Tetapi terlibat langsung menjaga kawasan mangrove yang berfungsi benteng alam untuk mencega abrasi.

Manager PLN UP3 Ketapang, Yusrizal Ibrani, mengatakan panen perdana ini menjadi bukti bahwa model budidaya silvofishery mampu berjalan dengan baik.

"Program ini tidak hanya menghasilkan komoditas perikanan bernilai ekonomi, tetapi juga mendorong masyarakat menjaga mangrove sebagai bagian penting ekosistem pesisir," ujarnya.

Menurut Yusrizal, tingginya partisipasi masyarakat terlihat sejak proses penanaman mangrove, pengelolaan tambak, hingga masa panen.

Ia berharap produktivitas budidaya terus meningkat sehingga manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat juga semakin besar.

Kolaborasi Berkelanjutan

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ketapang, MF Yuliansyah, mengapresiasi sinergi yang dibangun PLN dalam mengembangkan sektor perikanan berbasis konservasi.

Menurutnya, program silvofishery di Kuala Satong menjadi contoh pembangunan yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

"Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian mangrove," katanya.

Sementara itu, General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria G.I. Gunawan, menegaskan program silvofishery merupakan bagian dari strategi TJSL PLN untuk menciptakan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

"Program silvofishery di Kuala Satong menunjukkan bahwa kolaborasi mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat pesisir sekaligus memperkuat perlindungan ekosistem mangrove," ujarnya.

Maria menambahkan, keberhasilan panen perdana ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan usaha perikanan yang ramah lingkungan.

Selain meningkatkan pendapatan warga, model silvofishery juga berpotensi menjadi contoh pengelolaan kawasan pesisir berkelanjutan yang dapat diterapkan di daerah lain.***


Penulis : Dina Prihatini Wardoyo/ril
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar