Tradisi Robo-Robo di Khatulistiwa: Antara Doa, Ketupat Colet, dan Hangatnya Silaturahmi
PONTIANAK, insidepontianak.com - Semua duduk bersila, bersisian tanpa sekat. Tokoh masyarakat, pejabat, ulama, aparat, ibu-ibu, hingga warga biasa membaur di atas kain seprah.
Tangan-tangan pun terulur bergantian mengambil hidangan. Suara percakapan berbaur dengan sapaan akrab.
Sementara, botol air minum, piring saji, dan aneka lauk tersusun rapat di atas kain kuning keemasan.
Suasananya bukan sekadar ramai, melainkan hangat—seolah setiap orang yang hadir sedang dipertemukan kembali oleh tradisi, ingatan dan doa yang sama.
Ketupat colet tersaji menggugah selera. Ia terhampar bersama nasi putih, aneka lauk berkuah, paceri, dalca, rendang, serta pelengkap lain yang menguar aroma rempah.
Kuah kemerahan yang kaya rasa, lauk daging yang empuk, hingga taburan bawang goreng kian menambah keharuman hidangan.
Di sela-selanya, pisang dan buah-buahan tersaji sebagai pelengkap, menghadirkan kesan jamuan rakyat yang sederhana penuh makna.
Ketupat colet bukan hanya soal rasa; ia adalah lambang berbagi. Satu hidangan disantap bersama, menghapus jarak sosial dan mempererat silaturahmi.
Begitulah Robo-Robo hidup di tengah masyarakat Pontianak. Sebuah tradisi yang memeluk dimensi spiritual dan sosial sekaligus.
Di balik makan bersama, tersimpan doa tolak bala, rasa syukur kepada Allah SWT, serta pengharapan agar kota ini dijauhkan dari marabahaya.
Tradisi ini mengajarkan kebersamaan bukan sesuatu yang lahir dari kemewahan. Tetapi dari kesediaan duduk sejajar, berbagi hidangan, dan menundukkan hati dalam doa.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menganggap tradisi Robo-Robo bukan sekadar agenda tahunan atau perayaan budaya semata.
Sebab, di balik kemeriahannya tersimpan makna religius yang kuat. Momentum ini juga menjadi ruang bagi masyarakat memohon keselamatan, ketenteraman, dan perlindungan bagi Kota Pontianak.
“Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, ancaman kebakaran lahan, hingga penurunan kualitas air Sungai Kapuas akibat intrusi air laut, Robo-Robo terasa makin relevan sebagai ikhtiar batin masyarakat untuk mengetuk langit bersama,” ujarnya saat membuka Pesta Rakyat Robo-Robo Kota Pontianak 2026 di Gedung Serbaguna Kelurahan Banjar Serasan, Jalan Tanjung Raya II, Rabu (12/8/2026).
Wali Kota juga memaknai Robo-Robo sebagai sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.
Dalam suasana makan bersama di ruang publik maupun lingkungan permukiman, perbedaan sosial seolah luluh dalam kehangatan persaudaraan.
Ia mengingatkan bahwa kota yang heterogen seperti Pontianak membutuhkan persatuan yang kokoh agar pembangunan dapat terus berjalan.
Lebih istimewa lagi, peringatan Robo-Robo tahun ini hadir beriringan dengan semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
“Kita tidak cuma melestarikan tradisi, tetapi juga mengisinya dengan ketertiban, kepedulian sosial, ketaatan pada aturan, serta komitmen menjaga kebersihan dan kedamaian kota,” katanya.
Tradisi ini turut berlangsung di Taman Teras Parit Nanas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara. Kehangatan yang sama hidup dalam wajah yang berbeda.
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menyebut perayaan ini sebagai warisan budaya yang tak hanya patut dirawat, tetapi juga dimaknai lebih dalam.
Baginya, Robo-Robo adalah momentum bermunajat bersama, memanjatkan doa selamat dunia akhirat, sekaligus mensyukuri nikmat kehidupan yang telah diberikan Allah SWT.
Bahasan menekankan bahwa nilai terpenting dari Robo-Robo adalah kemampuannya menjaga kerukunan di tengah masyarakat Pontianak yang majemuk.
Sebab, kota Khatulistiwa dihuni beragam suku, agama, dan latar belakang, sehingga tradisi seperti Robo-Robo memiliki peran penting sebagai jembatan pemersatu sosial.
“Perbedaan kita jadikan kekuatan untuk saling menghormati,” katanya.
Dalam pandangannya, kondusivitas kota tidak cukup dijaga pemerintah atau aparat semata, melainkan harus ditopang oleh kesadaran kolektif seluruh warga.
Pada saat yang sama, Wakil Wali Kota juga menghubungkan semangat Robo-Robo dengan kepedulian terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Dari Pontianak Utara, ia menyampaikan pentingnya perhatian pada ruang publik, penerangan lingkungan, pendidikan, hingga penanganan rumah tidak layak huni.
“Ini harus jadi pengingat kita untuk saling membantu, saling menjaga, dan memastikan tak ada warga yang tertinggal,” sebutnya.
Pada akhirnya, Robo-Robo memperlihatkan wajah Pontianak yang sesungguhnya: bagaimana kota ini menjaga tradisi, agama, dan persaudaraan.
Ketupat colet yang disantap bersama menjadi metafora indah: hidup terasa lebih nikmat ketika dibagi, keberkahan hadir dalam kebersamaan, dan tradisi dihidupkan kembali lewat pertemuan, doa, serta seprah yang terus dijaga.***
Penulis : Abdul/prokopim
Editor : -

Leave a comment