Pengembangan Agribisnis Ayam Petelur Perkuat Kemandirian Ekonomi Desa

21 Juli 2026 21:29 WIB
AMNL bersama KUB Siantau Raya perkuat komitmen melalui program Pertanian Ekologi Terpadu (PET) peternakan ayam petelur. (Istimewa)

KETAPANG, insidepontianak.com – Pengembangan agribisnis ayam petelur berbasis masyarakat terus membuka peluang ekonomi baru bagi warga Desa Siantau Raya, Kabupaten Ketapang.

Lewat Program Pertanian Ekologis Terpadu (PET), PT Agrolestari Mandiri (AMNL) merangkul Kelompok Usaha Bersama (KUB) Siantau Raya dan Forum Komunikasi Pemandu Pertanian Ekologis Terpadu (FKPPET).

Program pemberdayaan dilakukan dari hulu hingga hilir, termasuk pelatihan diversifikasi produk olahan melibatkan anggota KUB, Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta Dharma Wanita Sungai Kelik Estate.

Targetnya, mengasah keterampilan warga mengolah hasil ternak menjadi produk bernilai tambah guna mendongkrak pendapatan desa. Hasilnya sudah terlihat. Sudah lahir empat peternak muda.

Mereka kini menjadi pengelola utama usaha sekaligus pelopor regenerasi agribisnis di Siantau Raya. Program ini sekaligus membuktikan sektor peternakan sangat menjanjikan bagi generasi muda jika didampingi dan didukung kolaborasi yang tepat.

Estate Manager Sungai Kelik Estate, Kaswadi menjelaskan, program ini merupakan kelanjutan dari inisiasi Pertanian Ekologis Terpadu (PET) sejak 2016 yang terus berkembang sesuai kebutuhan warga.

“Sejak 2024, fokus dikembangkan ke budidaya ayam petelur hulu-hilir. Kami dorong warga membuat produk olahan bernilai tambah agar manfaat ekonominya makin besar dan berkelanjutan,” ujar Kaswadi.


Masyarakat Desa Siantau mengikuti pelatihan peningkatan produk bernilai tambah untuk mendorong kemandirian ekonomi. (Istimewa). 

Agribisnis Terpadu

Pengembangan usaha ini menerapkan model agribisnis terpadu yang memadukan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesejahteraan.

Limbah peternakan turut dimanfaatkan hingga menciptakan sistem ekonomi sirkular. Apresiasi pun datang dari perwakilan warga Desa Siantau Raya, Norrahman yang aktif mengikuti program tersebut.

“Kami belajar bahwa hasil peternakan tidak berhenti pada penjualan telur, tetapi bisa diolah jadi beragam produk. Semoga ilmu ini jadi bekal berinovasi untuk mendongkrak pendapatan,” tuturnya.

Sejak program berjalan, produksi telur melesat dari 13.410 menjadi 36.125 butir per bulan, bahkan sempat menyentuh rekor 37.755 butir.

Warga juga sukses mengembangkan produk turunan seperti telur asin, kerupuk telur, amplang ayam, bakso ayam, bibit ayam (day-old chick), hingga pupuk kompos organik.

Ke depan, PT Agrolestari Mandiri (AMNL) berkomitmen memperkuat kolaborasi guna meningkatkan kapasitas kelompok dan memperluas diversifikasi produk.

Keberhasilan KUB Siantau Raya membuktikan bahwa regenerasi peternak muda, pemberdayaan perempuan, peningkatan ekonomi, dan ketahanan pangan dapat berjalan seiring, sekaligus siap menjadi percontohan bagi daerah lain.***


Penulis : Abdul Halikurrahman/ril
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar