Dari Lahan Gambut Kubu Raya, Ketahanan Pangan dan Hilirisasi Mulai Tumbuh di Kalimantan

21 Juli 2026 15:47 WIB
Hamparan lahan sawah di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya. (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com - Struktur lahan gambut di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat selalu memiliki cerita sendiri, tak terkecuali bagi petani. Tanah berwarna gelap itu, disebut menjadi tantangan besar bagi mereka untuk mengelola setiap petak sawahnya.

Bagaimana tidak? Air yang cenderung asam, kondisi lahan yang tak selalu mudah diolah, hingga ancaman hama menjadi bagian dalam keseharian mereka.

Namun mereka tak menyerah, dari tanah yang penuh tantangan itulah harapan baru mulai tumbuh.

Di sejumlah kawasan pertanian Kubu Raya, hamparan gambut perlahan berubah menjadi lahan produktif. 

Petani tetap menanam padi, mengembangkan komoditas hortikultura, dan mencoba membuka jalan agar hasil panen tidak hanya berhenti di sawah.

Sebab, bagi Kubu Raya, pertanian kini tak hanya tentang menghasilkan pangan. Ada mimpi yang lebih besar: membangun rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.

Saat fajar baru saja menyingsing, lahan sawah seluas enam hektare di Desa Arang Limbung sudah didatangi para petani. Aktivitas biasa pun berlangsung.

Sebagian mengecek kondisi tanaman, sebagian lainnya memastikan lahan siap menghadapi musim panen. Padi jenis gadu dan rendengan menjadi unggulan para petani di sana.

Di balik rutinitas itu, ada perubahan yang mulai terasa. Petani tidak lagi hanya berpikir bagaimana menghasilkan gabah, tetapi mulai melihat peluang menjual produk dengan nilai lebih tinggi.

Seperti yang dilakukan Kelompok Tani (Poktan) Tunas Harapan I, misalnya. Mereka mulai mencoba memasarkan hasil panen dalam bentuk beras, bukan lagi menjual gabah seperti sebelumnya.

“Kalau gabah kami tidak jual. Beras banyak orang pesan biasa 10 kilo,” kata Ketua Poktan Tunas Harapan I, Bahtiar.

Bahtiar mengungkapkan, petani menjual hasil panen dalam bentuk beras berkisaran Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram. Dengan masyarakat menjadi konsumen utamanya.

"Kalau jual ke perusahaan jarang, karena lokasinya lumayan jauh," ungkapnya.

Kelompok tani dengan 30 anggota itu menjadi gambaran kecil bagaimana upaya hilirisasi mulai dikenalkan dari tingkat petani.

Hilirisasi Padi di Kubu Raya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya, Agus Siswandi, mengatakan hilirisasi pada komoditas padi diarahkan agar petani mampu menjual hasil produksi dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, bentuk hilirisasi sederhana pada tanaman pangan adalah mengolah gabah menjadi beras.

“Kalau padi ini hilirisasinya adalah menjual dalam bentuk beras. Jadi hilirisasi kalau di tanaman pangan, padi itu hanya beras,” kata Agus.

Selain mendorong petani menjual beras, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga gabah saat musim panen raya.

Sebab, ketika produksi melimpah, harga gabah sering mengalami penurunan dan berdampak pada pendapatan petani.

Agus mengungkapkan, melalui kebijakan pemerintah pusat, Bulog kini diwajibkan membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram.

“Biasanya begitu panen raya, harga gabah ini jatuh. Pernah sampai Rp4.000 atau Rp5.000. Dengan instruksi kepada Bulog wajib membeli gabah pertanian Rp6.500,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap petani agar tetap mendapatkan harga yang layak.

Tak hanya itu, Pemkab Kubu Raya juga mengusulkan bantuan mesin penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU).

Dengan adanya fasilitas tersebut, petani diharapkan tidak hanya menjual gabah, tetapi dapat mengolahnya menjadi beras sebelum dipasarkan.

“Diharapkan petani begitu gabahnya panen, digiling, bisa menjual dalam bentuk beras. Jadi lebih meningkat secara ekonominya,” jelas Agus.

Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan ekonomi Kalimantan yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu fondasi.

Bank Indonesia mencatat ekonomi Kalimantan Barat tumbuh 6,14 persen (year on year) pada triwulan I 2026, dengan sektor pertanian dan industri pengolahan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah.

Kubu Raya pun mulai mengambil peran melalui penguatan sektor pertanian, bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga peningkatan rantai nilai hasil pertanian.

Pemerintah daerah kini mendorong peningkatan produksi melalui perluasan lahan dan dukungan sarana produksi.

Agus mengatakan, pihaknya telah mengusulkan 400 hektare cetak sawah baru dan 3.000 hektare Optimalisasi Lahan (OPLAH) pada 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan.

Petani juga akan mendapat dukungan berupa benih, pupuk, pestisida hingga alat mesin pertanian.

“Itu salah satu upaya meningkatkan produksi padi di Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.

Selain memperluas lahan, pemerintah juga menyiapkan Brigade Pangan dengan melibatkan petani muda.

Program Kementerian Pertanian itu diharapkan mampu melahirkan pengelolaan pertanian modern dengan dukungan teknologi dan alat mesin pertanian.

Namun Agus tak menampik, pengembangan pertanian di Kubu Raya bukan tanpa tantangan. 

Karakter lahan yang didominasi gambut membuat petani membutuhkan perlakuan khusus.

Kondisi air yang cenderung asam turut memengaruhi kualitas hasil panen.

“Untuk menghasilkan beras premium, tingkat patahnya harus rendah. Ini yang menjadi tantangan karena kondisi lahan gambut dan air kita,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah mulai mencari varietas tanaman yang sesuai dengan karakter wilayah.

Komoditas seperti keladi di Kecamatan Rasau Jaya dan Sungai Raya, serta jahe di Terentang, juga mulai dikembangkan karena dinilai cocok dengan kondisi lahan gambut.

Petani Tunggu Solusi

Sementara itu, persoalan lain bagi petani juga masih menunggu solusi. Wakil Ketua Poktan Tunas Harapan I, Suyono, mengatakan gangguan hama seperti tikus, burung, gulma hingga penyakit tanaman masih menjadi kendala yang sering dihadapi.

“Kami perlu dukungan alat traktor, pupuk, bibit dan obat-obatan. Bantuan dari pemerintah memang sudah ada, tetapi belum maksimal,” keluhnya.

Meski begitu, peluang pasar mulai terbuka. Menurut Suyono, hasil panen petani sebenarnya sudah memiliki calon pembeli.

“Yang menerima hasil panen sebenarnya sudah ada. Tinggal kami mempersiapkan hasil panennya supaya lebih baik,” katanya.

Hilirisasi Jadi Atensi Pemerintah Daerah

Bupati Kubu Raya, Sujiwo melihat hilirisasi menjadi kunci agar potensi pertanian daerah tidak kehilangan nilai.

Namun, untuk komiditas padi, Sujiwo mengatakan, bahwa hingga ini pemerintah hanya berfokus pada kebutuhan para petani.

"Saya pikir hilirisasinya hanya berkaitan dengan mesin-mesin, selepan-selepan itu saja," kata Sujiwo.

Di sisi lain, Bagi Sujiwo, peluang hilirisasi tak hanya berada pada komoditas padi, tetapi juga buah-buahan khas Kubu Raya seperti rambutan, durian, langsat, manggis hingga cempedak.

Bukan tanpa alasan, saat panen raya misalnya, Sujiwo mengungkapkan, harga komoditas sering turun karena belum ditopang industri pengolahan.

“Hilirisasi akan menjadi perhatian kami, terutama buah-buahan. Ketika hasil panen melimpah tetapi tidak ada pengolahan, harga langsung jatuh mengikuti mekanisme pasar,” ujar Sujiwo.

Dari lahan gambut yang dulu dianggap sulit dikembangkan, Kubu Raya kini mencoba membangun cerita baru.

Tak hanya menjadi daerah penghasil pangan, tetapi menjadi ruang tumbuh bagi investasi, teknologi, dan industri pengolahan.

Sebuah gambaran kecil bahwa masa depan ekonomi Kalimantan tidak hanya berada pada apa yang diambil dari bumi, tetapi juga bagaimana hasil bumi itu mampu diolah menjadi nilai tambah bagi masyarakat. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar