Pasien Cuci Darah di Landak Tinggi, RSUD Baru Layani 12 Pasien
LANDAK, Insidepontianak.com - Layanan hemodialisa (HD) di RSUD Landak mulai berjalan, namun kapasitasnya masih jauh dari kebutuhan pasien gagal ginjal di Kabupaten Landak.
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Dialisis RSUD Landak, dr Rusdianto, menyebut jumlah pasien yang membutuhkan terapi cuci darah di Landak cukup tinggi.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan Cabang Landak, terdapat sekitar 49 pasien gagal ginjal yang memerlukan layanan cuci darah.
Selama ini, pasien harus menjalani pengobatan ke luar daerah seperti Pontianak, Sanggau, hingga Singkawang karena layanan belum tersedia di Landak.
“Untuk saat ini dengan membuka pelayanan cuci darah di RSUD Landak, sudah dapat kita melakukan pelayanan dua kali seminggu,” kata Rusdianto, Kamis (24/4/2026).
Ia menjelaskan, pembukaan layanan ini menjadi langkah awal untuk mendekatkan akses pengobatan bagi pasien. Namun, jumlah pasien yang bisa dilayani masih terbatas karena keterbatasan alat dan tenaga.
Menurut Rusdianto, pasien gagal ginjal kronik membutuhkan terapi pengganti ginjal karena fungsi ginjal sudah tidak bekerja normal. Hemodialisa menjadi salah satu metode utama agar pasien dapat bertahan.
“Adapun untuk standar pelayanan cuci darah itu sendiri, yakni minimal dua sampai tiga kali dalam seminggu,” ujarnya.
Dengan kebutuhan terapi yang bersifat rutin, ketersediaan layanan menjadi faktor penting. Pasien tidak hanya membutuhkan akses sesekali, tetapi jadwal pengobatan yang konsisten dalam jangka panjang.
Kondisi ini membuat RSUD Landak harus mengatur layanan secara bertahap agar tetap berjalan sambil menyiapkan pengembangan ke depan.
Sementara itu Direktur RSUD Landak, dr Albertus Geovani, mengatakan saat ini rumah sakit memiliki empat unit alat hemodialisa. Dengan kapasitas tersebut, layanan baru mampu menjangkau 12 pasien dalam satu pekan untuk satu shift.
“Kalau yang dengan 4 alat itu, kalau dengan satu shift kita mampu dalam 1 kali 1 minggu itu 12 pasien saja,” kata Albertus.
Ia mengakui kapasitas tersebut masih jauh dari jumlah pasien yang membutuhkan terapi. Karena itu, rumah sakit menyiapkan langkah penguatan layanan agar lebih banyak pasien dapat terlayani.
“Kalau cuma 12 pasien, kasihan pasien-pasien yang lain tidak bisa terlayani. Nanti kalau memang bisa lancar, yang empat ini bagus, tentu kita akan berupaya bagaimana caranya untuk menambah pelayanan,” ujarnya.
Menurut Albertus, pengembangan layanan tidak hanya bergantung pada penambahan alat, tetapi juga kesiapan tenaga medis. RSUD Landak saat ini bekerja sama dengan penyedia layanan untuk mengirim dokter dan perawat mengikuti pelatihan.
“Kalau tenaga kita sudah pelatihan, nambah alat kita bisa diajukan ke penyedia,” katanya.
Dengan penguatan yang direncanakan, RSUD Landak menargetkan kapasitas layanan dapat meningkat secara bertahap sehingga lebih banyak pasien tidak perlu lagi bergantung pada layanan di luar daerah. (*)
Penulis : Ya Wahyu
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment