Sulap Sawah Jadi Agrowisata, Pupuk Kaltim Resmikan Kampung Sawah Abadi di Bulutana

6 Agustus 2026 13:33 WIB
Peresmian Kampung Sawah Abadi oleh pihak PT Pupuk Kalimantan Timur bersama pemerintah daerah setempat. (Istimewa)

GOWA, insidepontianak.com - PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meresmikan Kampung Sawah Abadi (KSA) Bulutana di Kelurahan Bulutana, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2026).

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini dirancang sebagai destinasi edu-agrowisata guna mendorong sistem pertanian yang berkelanjutan, mandiri, dan terintegrasi dengan sektor pariwisata.

AVP Pembangunan Sosial dan Lingkungan Departemen TJSL Pupuk Kaltim, Uchin Mahazaki, menyampaikan. Sulawesi Selatan merupakan salah satu pasar utama perusahaan di Indonesia Timur.

Oleh karena itu, menjaga kesuburan lahan di daerah ini menjadi komitmen sosial perusahaan. Pendampingan melalui program PKT Berseri dirancang bertahap dalam rentang 2023 hingga 2027.

Program diawali dengan proyek percontohan dekomposer dan pelatihan budidaya pada 2023–2024, termasuk pembangunan eco-trail sepanjang 230 meter untuk mempermudah pemindahan hasil panen di lahan dataran tinggi.

Memasuki 2025, program difokuskan pada penguatan kapasitas kelembagaan, pengelolaan pascapanen, dan penyediaan mesin produksi kompos.

Sementara pada 2026, program fokus bergeser ke pengembangan infrastruktur, branding kawasan, dan penyelenggaraan acara pariwisata.

Puncaknya pada 2027, kawasan ini ditargetkan menjadi destinasi unggulan bersertifikasi Desa Wisata Hijau.

Dampak program ini dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Ketua Pengelola KSA, Syafruddin, mengungkapkan bahwa produktivitas panen warga melonjak drastis.

Dari yang sebelumnya rata-rata 4 ton per hektare dengan frekuensi dua kali panen setahun, kini naik menjadi 6–7 ton per hektar dan bisa dipanen tiga kali dalam setahun.

"Kehadiran eco-trail sangat membantu. Kalau panen hari ini, malamnya hasil sawah bisa langsung sampai di rumah. Itulah yang membuat kami sekarang bisa panen tiga kali setahun," ujarnya.

Menariknya, pengelolaan wisata ini turut melibatkan pemuda desa. Sebagian pendapatan dari sektor wisata dialokasikan kembali untuk membeli bibit, pupuk, hingga membayar pajak lahan petani.

Pengelola juga meluncurkan aplikasi digital "Sipadi" agar wisatawan bisa ikut menanam padi dan memantau perkembangannya secara langsung.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Mirna, mengapresiasi inovasi ini karena dinilai sanggup memicu regenerasi petani di daerah.

"Program seperti ini sangat perlu direplikasi di daerah lain di Sulawesi Selatan," tutur Andi Mirna.***


Penulis : Dina Prihatini Wardoyo/biz
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar