Dampak Asap Karhutla, ISPA di Kalbar Melonjak, Kubu Raya dan Ketapang Meningkat Tajam
PONTIANAK, insidepontianak.com — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Hingga pertengahan Agustus 2026 (pekan ke-31), Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar mencatat sebanyak 6.502 kasus ISPA ditemukan dalam sepekan.
Lonjakan ini terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Pontianak sempat beberapa kali masuk kategori berbahaya.
Asap Picu Iritasi Pernapasan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Erna Yulianti mengungkapkan, kemunculan titik panas (hotspot) membuat kualitas udara berubah-ubah dan cenderung memburuk.
Pencemaran udara asap kebakaran hutan dan lahan memicu iritasi saluran pernapasan, terutama bagi warga yang memiliki riwayat penyakit bawaan.
“Jika kualitas udara memasuki kategori tidak sehat hingga berbahaya, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Kurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak,” imbau Erna, Rabu (19/8/2026).
Melonjak di Empat Daerah
Dinkes Kalbar mencatat kasus ISPA sepanjang Januari hingga pertengahan Agustus 2026 bergerak fluktuatif, dengan rata-rata 5.124 kasus per minggu.
Angka ini merangkak naik dari 5.578 kasus di akhir Juni hingga menembus 6.502 kasus pada pekan ke-31. Secara kewilayahan, kenaikan kasus terjadi di Ketapang, Kapuas Hulu, Sintang, Kubu Raya, dan Singkawang.
“Tren peningkatan paling signifikan saat ini terjadi di Kubu Raya dan Ketapang,” jelas Erna.
Meski begitu, berdasarkan akumulasi data sejak Januari hingga pertengahan Agustus, Kota Pontianak masih mengantongi total kasus ISPA tertinggi yakni 36.925 kasus. Disusul Ketapang dengan 17.842 kasus dan Kubu Raya sebanyak 16.766 kasus.
Waspada Kelompok Rentan
Dari sisi kelompok usia, penderita ISPA didominasi oleh kelompok dewasa sebesar 39,8 persen. Diikuti balita 24,2 persen, anak-anak 13,8 persen, remaja 11,6 persen, dan lansia 10,4 persen.
“ISPA memang menyerang seluruh usia. Namun, balita dan lansia perlu perhatian ekstra karena paling rentan saat kualitas udara memburuk,” tegasnya.
Kendati kasus melonjak bersamaan dengan maraknya kabut asap, Erna menyebut ISPA juga dapat dipicu oleh faktor risiko lain. Karena itu, warga tetap diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menghindari asap rokok.
Jangan Tunda Berobat
Erna mengingatkan warga untuk tak menunda pengobatan jika mulai merasakan gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, atau sesak napas.
“Apabila mengalami gejala ISPA, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” imbaunya.
Dinkes Kalbar memastikan akan terus memantau perkembangan kasus ISPA mingguan di seluruh kabupaten/kota, sembari memperkuat edukasi penggunaan masker dan pemantauan kualitas udara secara berkala.***
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment