Menjejak Air Terjun Bedawan: Menaklukkan Medan, Rindu untuk Kembali

27 April 2026 15:56 WIB
Panorama Air Terjun Bedawan di Desa Dange Aji, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak. (Insidepontianak.com/Wahyu)

LANDAK, insidepontianak.com - Dari Desa Dange Aji, Kecamatan Air Besar, perjalanan menuju Air Terjun Bedawan dimulai tanpa banyak penanda.

Jalan tanah membentang. Sebagian masih bisa dilintasi kendaraan. Sisanya menyempit. Tinggal jalan setapak. Harus ditempuh berjalan kaki.

Waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam untuk sampai ke tujuan. Saat hujan turun, medan menjadi lebih berat. Tanah berubah lembek. Licin. Langkah harus lebih hati-hati.

Namun, bagi para petualang, justru di situlah tantangannya. Mencari destinasi di hutan rimba memang butuh perjuangan.

Rizki, pengunjung asal Pontianak, termasuk yang tak pernah kapok. Setidaknya, ia sudah enam kali menjejakkan kaki ke Bedawan.

Baginya, pesona alam selalu mengobati lelah. Tak heran, ia rela menempuh perjalanan jauh. Terakhir, ia datang bersama rombongan sekitar 15 orang.

“Bukan cuma kami yang datang. Sering juga ada kelompok lain,” ujarnya.

Bagi Rizki, perjalanan terjal menembus belantara justru menyenangkan. Ada alasan yang membuatnya terus kembali.

Apa itu?

Jalur sungai. Air mengalir jernih, menyusuri batu-batu. Dingin. Tenang. Arus menantang.

Di titik-titik itu, langkah sering terhenti. Bukan karena lelah. Tetapi karena ada pengalaman lain yang menunggu.

Di aliran sungai, tubuh diistirahatkan dengan berendam. Hati dihibur dengan mandi bersama. Atau, kesabaran diuji lewat casting.

Sungai Bedawan dikenal sebagai habitat ikan liar seperti hampala dan masher—predator air tawar yang hidup di arus deras.

“Kalau hobi mancing, bisa casting di sungainya. Tarikannya beda. Lebih terasa,” kata Rizki.

Selain itu, pemandangan sepanjang jalur tak pernah membosankan. Sudut-sudutnya teduh. Hutan makin rapat. Cahaya matahari tersaring di sela pepohonan yang menjulang tinggi.

Perjalanan berlanjut.

Suara gemuruh air mulai terdengar dari kejauhan. Menuntun langkah yang sejak tadi menyusurinya.

Air Terjun Bedawan muncul di balik pepohonan tua. Air jatuh deras dari ketinggian. Memecah sunyi di tengah belantara.

Percikannya membentuk kabut tipis. Dingin menembus kulit. Di bawahnya, aliran air kembali menyatu menjadi sungai yang dilalui sebelumnya.

“Semua terasa sepadan saat sampai di tujuan. Pemandangan terbuka di depan mata. Perjalanan panjang seperti terbayar lunas,” ujar Rizki.

Menembus lokasi Air Terjun Bedawan memang tidak mudah. Namun, jika berhasil sampai, pesonanya membayar segalanya.

Dan mungkin, di situlah alasan orang terus kembali. Bukan hanya untuk melihat air terjun, tetapi untuk mengulang pengalaman perjalanan dari awal hingga akhir. Rindu untuk kembali.***

 


Penulis : Wahyu
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar