Karhutla Picu Pipa Induk Bocor, Warga Kayong Utara Keluhkan Krisis Air Bersih Kian Parah

20 Juli 2026 13:16 WIB
Kondisi pipa yang terbakar di Parit Bugis, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kamis (16/7/2026)

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara menyebabkan pipa induk air bersih mengalami kebocoran di Parit Bugis, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kamis (16/7/2026).

Insiden tersebut sempat mengganggu distribusi air bersih kepada pelanggan, di tengah keluhan masyarakat yang hingga kini masih kesulitan memperoleh pasokan air bersih secara normal.

Kepala UPT Pelayanan Air Bersih Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kayong Utara, Hermawan, mengatakan kebocoran terjadi pada jaringan pipa broncaptering Sungai Buluh. Kerusakan dipicu panas akibat kebakaran lahan yang terjadi di sekitar jalur pipa.

"Kejadiannya di Parit Bugis, pada jaringan pipa broncaptering Sungai Buluh. Yang terbakar atau bocor hanya satu titik dan sudah diperbaiki," kata Hermawan saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).

Menurut Hermawan, petugas langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan. Perbaikan berhasil diselesaikan dalam waktu singkat sehingga aliran air bersih kembali normal dan distribusi kepada pelanggan dapat dilanjutkan.

Meski demikian, gangguan akibat kebocoran tersebut menambah daftar persoalan layanan air bersih yang sejak beberapa bulan terakhir dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Kayong Utara. Sejumlah warga mengaku pasokan air masih jauh dari memadai meski pemerintah telah menerapkan sistem meteran air.

Salah seorang warga Sukadana, Lestari, mengaku pemasangan meteran air belum memberikan dampak terhadap peningkatan layanan. Justru, menurutnya, air semakin jarang mengalir.

"Padahal kalau sudah ditarik iuran, fasilitas air bisa kita rasakan maksimal. Ini malah setelah pasang meteran air, kita makin sulit mendapatkan air," ujar Lestari, Senin (20/7/2026).

Ia mengatakan, dalam dua bulan terakhir air bersih sangat jarang mengalir ke rumahnya. Kondisi itu memaksanya membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Sebulan saya harus membeli sekitar 2.000 liter air. Biayanya bisa mencapai Rp600 ribu sampai Rp800 ribu. Air itu hanya untuk mandi dan mencuci piring. Untuk mencuci pakaian saya juga harus membayar jasa laundry, sebulan bisa lebih dari Rp700 ribu. Kondisi ekonomi sedang sulit, tetapi kami harus menambah pengeluaran yang tidak sedikit hanya untuk kebutuhan air," keluhnya.

Hermawan mengimbau masyarakat untuk bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan karena dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu infrastruktur pelayanan publik, termasuk jaringan distribusi air bersih.

"Kami mengimbau supaya masyarakat dapat menjaga dan mencegah aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran," ujarnya.

Ia berharap kesadaran masyarakat dalam mencegah karhutla terus meningkat agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan pelayanan air bersih maupun fasilitas umum lainnya dapat berjalan tanpa gangguan. (*)


Penulis : Fauzi
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar