Luka Bakar hingga Kelaparan, Tragisnya Nasib Orangutan Korban Karhutla Kayong Utara

15 September 2026 15:07 WIB
Penyelamatan induk orang utan di Kayong Utara/IST

KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Karhutla di Kabupaten Kayong Utara tidak hanya membakar lahan. Kebakaran juga memukul langsung habitat satwa liar, memaksa orangutan keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan dan tempat bertahan hidup.

Dampaknya terlihat dalam operasi penyelamatan yang dilakukan tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar dan masyarakat, Sabtu lalu (12/9/2026).

Dalam dua operasi di hari yang sama, tiga orangutan berhasil dievakuasi dari wilayah Desa Penjalaan dan Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir.

Dua di antaranya merupakan induk dan anak yang kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja. Keduanya ditemukan di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi.

Kondisi Mama Penja menjadi perhatian serius tim medis. Induk orangutan itu ditemukan dalam kondisi sangat kurus, lemas dan hampir tidak bergerak dari sarangnya meski banyak orang berada di sekitarnya.

Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr. Karmele Llano Sanchez, mengatakan kondisi Mama Penja menunjukkan dampak langsung kebakaran terhadap satwa.

Saat diperiksa, Mama Penja mengalami dehidrasi berat dan anemia. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.

“Kemungkinan luka tersebut terjadi karena orangutan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar,” kata Karmele.

Bukan hanya tubuhnya yang terluka. Kondisi gigi Mama Penja juga memprihatinkan dan mengalami banyak pengikisan.

Keterbatasan pakan akibat kebakaran diduga menjadi salah satu penyebabnya. Orangutan kemungkinan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus.

Yang paling mengkhawatirkan, kata Karmele, adalah respons Mama Penja setelah sadar dari pembiusan.

Bukannya agresif atau berusaha melawan, orangutan tersebut justru langsung mencari makanan.

“Ia hanya mencari makanan. Seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,” ujarnya.

Bertahan Berbulan-bulan di Tengah Habitat yang Terbakar

Hasil pemeriksaan dokter hewan dan laboratorium menunjukkan Mama Penja mengalami anemia berat.

Tim menduga kondisi tersebut berkaitan dengan kekurangan makanan yang berlangsung cukup lama, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai terjadi di wilayah tersebut sekitar dua bulan sebelumnya.

Kondisinya bahkan membuat tim medis mempertanyakan bagaimana orangutan tersebut masih mampu bertahan hidup. Saat ini Mama Penja menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang.

Tim medis memprioritaskan stabilisasi kondisi tubuh, pemberian nutrisi dan perawatan intensif, termasuk memastikan anaknya, Penja, memperoleh perawatan yang dibutuhkan. Tim berharap keduanya dapat pulih dan suatu saat kembali ke alam.

Evakuasi Kumbang

Dampak karhutla juga membuat seekor orangutan jantan dewasa bernama Kumbang keluar dari habitatnya. Kumbang ditemukan di Desa Padu Banjar setelah tim menerima laporan masyarakat.

Setelah berhasil dibius dan dievakuasi, tim menemukan microchip pada tubuhnya. Identifikasi menunjukkan Kumbang merupakan orangutan yang pernah dievakuasi dari hutan yang sama pada 2022.

Saat itu, Kumbang telah diselamatkan dan dilepasliarkan kembali. Namun, kebakaran yang meluas kini kembali mendorongnya masuk ke wilayah kampung dan kebun masyarakat.

“Namun karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” kata Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting.

Pemeriksaan medis terhadap Kumbang juga menemukan sejumlah persoalan. Dokter hewan mendapati suara abnormal pada paru-paru kanan. Sebelumnya, warga juga melaporkan Kumbang sempat terdengar batuk.

Saat dievakuasi, lokasi kebun tempat Kumbang ditemukan dipenuhi kabut asap cukup tebal. Tim menduga gangguan pernapasan tersebut berkaitan dengan paparan asap karhutla. Selain masalah pernapasan, tubuh Kumbang ditemukan memiliki sejumlah luka dan bekas cedera.

Di antaranya luka cukup panjang pada punggung kanan, sejumlah bekas luka pada kaki, serta luka yang berdasarkan pemeriksaan awal kemungkinan merupakan bekas abses atau cedera akibat proyektil.

Tim juga menemukan benda asing yang tertanam pada tangan kanan yang diduga merupakan peluru, serta bekas jerat.

Habitat Orangutan Terbakar

Kondisi ketiga orangutan tersebut memperlihatkan tekanan yang semakin besar terhadap satwa liar akibat karhutla.

Hutan Desa Penjalaan dan Hutan Desa Padu Banjar diketahui merupakan habitat orangutan sekaligus kawasan penyangga bagi Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).

Kawasan tersebut mengalami kebakaran cukup parah. Bagi konservasi orangutan di Kalimantan Barat, kondisi ini menjadi persoalan serius karena TANAGUPA merupakan salah satu kantong populasi penting orangutan di provinsi tersebut.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan dampak kebakaran terhadap satwa mulai terlihat secara langsung.

Mama Penja ditemukan dengan luka bakar pada kaki, tubuh kurus dan tanda dehidrasi. Sementara Kumbang mengalami gangguan kesehatan yang ditandai suara abnormal pada paru-paru serta riwayat batuk.

Ketiga orangutan kini menjalani pemantauan dan penanganan lebih lanjut di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI.

18 Orangutan Diselamatkan Akibat Karhutla

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan penyelamatan ketiga orangutan tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya.

Ketiganya kini menjalani perawatan di pusat penyelamatan orangutan YIARI di Ketapang.

BKSDA berharap satwa tersebut dapat segera pulih dan nantinya bisa kembali dilepasliarkan ke habitat alami yang aman.

Namun, angka yang disampaikan BKSDA menunjukkan bahwa persoalan ini bukan kasus tunggal.

Hingga saat ini, sudah 18 individu orangutan yang diselamatkan akibat dampak karhutla.

Murlan mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa terdampak kebakaran hutan dan lahan melalui call center BKSDA Kalimantan Barat di 0811-5670-041 atau 0811-5776-767.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan bahwa ketika habitat terbakar dan akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas, satwa dapat terdorong masuk ke wilayah yang justru meningkatkan risiko keselamatan dan kesehatan mereka.

Di Kayong Utara, dampaknya sudah terlihat pada tubuh satwa: kaki terbakar, tubuh kurus, dehidrasi, anemia, gangguan pernapasan, hingga orangutan yang terpaksa keluar dari habitatnya untuk mencari makanan.

Dan bagi gambut serta hutan yang menjadi rumah mereka, kerusakan akibat kebakaran bukan perkara yang mudah dikembalikan seperti semula. (*)


Penulis : REDAKSI
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar