Nyepi, Sehari untuk Diam dan Mendengar Diri Sendiri

19 Maret 2026 14:07 WIB
Dua ogoh-ogoh yang kembali disimpan usai kegiatan perarakan di Pura Giripati Mulawarman di Jalan Adisucipto, Kubu Raya. (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com — Keramaian perlahan mereda di halaman Pura Giripati Mulawarman di Jalan Adisucipto, Kubu Raya.

Setelah ogoh-ogoh diarak mengelilingi kawasan pura dan jalan sekitar, suara gamelan yang sejak, Rabu (18/3/2026) sore menggema kini mulai berhenti. 

Warga satu per satu pulang, meninggalkan sisa aroma dupa yang masih menggantung di udara malam.

Bagi umat Hindu, momen itu bukan akhir perayaan, melainkan awal dari perjalanan yang sesungguhnya, yakni; Hari Raya Nyepi.

Tahun ini Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 19 Maret 2026. Hari raya itu hadir bukan dengan pesta, melainkan dengan keheningan. 

Sebuah hari ketika manusia diajak berhenti dari rutinitas dan kembali mendengar dirinya sendiri.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Barat, Ida Sri Resi Dukuh Putra Bandem Kepakisan, mengatakan Nyepi sebagai proses penyucian batin, bukan sekadar tradisi tahunan.

“Intinya membersihkan diri sendiri secara spiritual. Bukan hanya tidak berbicara atau tidak beraktivitas, tetapi bagaimana manusia memperbaiki dirinya,” kata Ida.

Mengapa Harus Diawali Keramaian?

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu justru menghadirkan suasana ramai melalui arak-arakan ogoh-ogoh. 

Di Pura Giripati Mulawarman sendiri terdapat dua ogoh-ogoh. Patung raksasa berwajah menyeramkan itu menjadi simbol sifat negatif manusia.

“Dalam ajaran Hindu ada simbol dewa dan raksasa. Yang digambarkan adalah sifat raksasa dalam diri manusia,” jelasnya.

Ogoh-ogoh umumnya dibakar sebagai lambang penghancuran sifat buruk, seperti; amarah, keserakahan, dan ego.

Dengan kepercayaan, agar manusia memasuki tahun baru dalam keadaan bersih secara batin.

Namun, di Kubu Raya, usai perarakan. Ogoh-ogoh akan kembali disimpan. Tidak dibakar.

Ida mengungkapkan, ogoh-ogoh di Pura Giripati Mulawarman dibuat sederhana melalui gotong royong umat. 

Tak ada kemewahan berlebihan, namun nilai kebersamaan terasa kuat.

Saat Nyepi tiba, suasana berubah total. Aktivitas dihentikan. Perjalanan dibatasi, dan hiburan ditiadakan. 

Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian sebagai bentuk pengendalian diri. Keheningan menjadi bagian utama ibadah.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi suara notifikasi, kendaraan, dan kesibukan tanpa henti, Nyepi menghadirkan pengalaman langka: dunia yang melambat.

Halaman Pura Giripati Mulawarman yang sebelumnya ramai kini hanya diisi suara angin dan alam.

Makna Nyepi di Tengah Keberagaman Kalbar

Bagi umat Hindu di Kalimantan Barat, Nyepi juga menjadi simbol harmoni sosial. Kehidupan lintas agama yang telah berlangsung puluhan tahun membuat perayaan ini berjalan dalam suasana saling menghormati.

Ida Sri Resi, yang telah menetap lebih dari lima dekade di Kalbar sejak 1976, menilai toleransi menjadi kekuatan utama masyarakat.

“Yang penting kita sama-sama menjaga toleransi. Di Kalbar ini aman karena masyarakatnya saling menghormati,” katanya.

Menurutnya, agama sejatinya membawa kebaikan. Ketidakharmonisan muncul bukan karena ajaran agama, melainkan perilaku manusia.

Nyepi mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu harus diisi dengan gerak dan suara. Ada kalanya manusia perlu berhenti untuk memahami arah hidupnya.

Dari riuh ogoh-ogoh menuju sunyi penyepian, umat Hindu diajak menyadari satu hal, yakni; perubahan besar sering dimulai dari refleksi yang tenang.

Dan ketika malam Nyepi menyelimuti Kubu Raya, keheningan tak hanya tradisi melainkan ruang bagi manusia untuk memulai kembali dengan hati yang lebih bersih. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar