BMKG Supadio: Musim Kemarau di Kalbar Diprediksi Mulai Pertengahan Juni
KUBU RAYA, insidepontianak.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Supadio meluruskan informasi yang berkembang di masyarakat terkait fenomena El Nino yang disebut-sebut memicu kemarau lebih cepat di Kalimantan Barat.
BMKG memastikan, musim kemarau di Kalbar diperkirakan baru akan dimulai pada pertengahan Juni 2026.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Supadio, Sutikno, mengatakan wilayah Kalbar masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas normal hingga Mei mendatang.
“Untuk April ini belum masuk musim kemarau. Prediksi kami, April hingga Mei curah hujan masih dalam kategori normal,” kata Sutikno, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, meski terdapat indikasi fenomena El Nino di Indonesia, kondisi tersebut belum berdampak langsung terhadap perubahan musim di Kalbar dalam waktu dekat.
BMKG menilai peluang hujan yang masih terjadi menjadi faktor penting dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun potensi kebakaran tetap perlu diantisipasi sejak dini.
Dalam sepekan ke depan, kata dia, hujan masih berpotensi turun di sejumlah wilayah Kalbar.
Namun, distribusinya belum merata, terutama di wilayah Kubu Raya bagian barat yang tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Potensi hujan masih ada sehingga karhutla diperkirakan berangsur berkurang, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan,” ujarnya.
Di samping itu, BMKG mencatat sempat terjadi penurunan jarak pandang di sekitar Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya pada 27 hingga 28 Maret lalu. Visibilitas tercatat berada di bawah satu kilometer.
Kondisi tersebut berlangsung singkat, sekitar dua jam pada pagi hari, yakni pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Saat ini, jarak pandang dilaporkan telah kembali normal.
“Pada 29 dan 30 Maret jarak pandang sudah kembali di atas satu kilometer sehingga aktivitas penerbangan aman,” jelasnya.
Hotspot Mulai Meningkat
Di sisi lain, jumlah titik panas (hotspot) di Kalbar menunjukkan tren peningkatan sejak Januari hingga Maret 2026, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada Maret.
Tiga wilayah dengan hotspot terbanyak saat ini yakni Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, dan Mempawah. Ketapang tercatat sebagai daerah dengan jumlah titik panas tertinggi pada periode tersebut.
Berdasarkan data historis BMKG periode 2015–2025, puncak kemunculan hotspot di Kalbar umumnya terjadi pada Agustus hingga September.
Karena itu, BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak awal guna mencegah kebakaran meluas saat musim kemarau tiba.
BMKG sendiri memprediksi puncak musim kemarau di Kalbar akan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026.
“Sekarang memang mulai meningkat, tetapi puncaknya biasanya Agustus atau September. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang,” pungkas Sutikno. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment