Karhutla Kubu Raya Berulang, Bahruni Tekankan Pentingnya Pemulihan Gambut
KUBU RAYA, insidepontianak.com - Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kubu Raya dalam beberapa pekan terakhir.
Kecamatan Sungai Raya dan Rasau Jaya menjadi titik karhutla yang paling sering bermunculan seiring menguatnya musim kemarau.
Data BMKG Kalimantan Barat per 24 Juli 2026 yang mencatat 649 titik panas (hotspot) tersebar di 14 kabupaten/kota.
Kubu Raya mencatat 146 hotspot, terdiri dari 11 titik berstatus kepercayaan rendah, 132 titik menengah, dan tiga titik kepercayaan tinggi.
Jumlah itu menjadi yang tertinggi ketiga di Kalbar setelah Ketapang dan Kayong Utara.
BMKG juga memprakirakan curah hujan rendah akibat fenomena El Nino berlangsung hingga September 2026.
Kondisi itu meningkatkan kerawanan karhutla di Kubu Raya, sebab memiliki kawasan gambut seluas sekitar 342 ribu hingga 523 ribu hektare.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalbar, Bahruni Hendri, menilai meningkatnya karhutla tak hanya dipengaruhi cuaca kering.
Menurutnya, kerusakan ekosistem gambut membuat lahan semakin mudah terbakar.
“El Nino memang menyebabkan kekeringan. Tapi gambut yang sudah terdegradasi membuat api lebih mudah menyebar,” kata Bahruni kepada insidepontianak.com, Sabtu (25/7/2026).
Bahruni menjelaskan, kerusakan itu dipicu terganggunya tata air gambut akibat banyaknya kanal yang dibangun.
Air terus keluar dari kawasan gambut atau yang dikenal sebagai kebocoran gambut, sehingga lahan kehilangan kelembapan alaminya.
“Airnya sudah rusak, banyak kanal. Gambut menjadi kering dan ketika ada api langsung terbakar,” ujarnya.
Bahruni mengungkapkan, persoalan tersebut sebenarnya sudah direspons pemerintah pascakebakaran hutan besar pada 2015 dengan membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG).
Lembaga itu dibentuk untuk mempercepat pemulihan ekosistem gambut melalui berbagai program restorasi.
Namun, kata dia, proses pemulihan belum selesai. Di sisi lain, BRG telah dibubarkan pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sehingga pekerjaan restorasi masih menyisakan tantangan.
“Agenda restorasi itu belum selesai. Ekosistem gambut kita sudah telanjur rusak,” ungkapnya.
Ia menilai, pemulihan gambut harus kembali menjadi prioritas untuk menekan risiko karhutla yang terus berulang setiap musim kemarau.
Salah satu langkah yang perlu dilakukan ialah pembasahan kembali (rewetting) dengan membangun sekat kanal agar air tetap tertahan di kawasan gambut.
Dengan begitu, gambut dapat kembali menyimpan air dan tidak mudah mengering.
“Kanal-kanal yang penting perlu disekat. Air ditahan supaya gambut kembali basah,” ujarnya.
Selain itu, revegetasi atau penanaman kembali juga harus dilakukan untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan gambut.
Bahruni juga mendorong, penguatan ekonomi masyarakat melalui praktik pertanian tanpa membakar lahan.
Menurutnya, pendekatan tersebut pernah dijalankan melalui program restorasi gambut bersama pemerintah dan masyarakat sipil, serta dinilai cukup baik untuk memulihkan ekosistem gambut.
“Harapannya gambut bisa kembali menampung air. Kalau tetap basah saat musim kemarau, risikonya tidak mudah terbakar,” pungkasnya. (Greg)
Penulis : Gregorius
Editor : -
Tags :

Leave a comment