Masyarakat Kubu Raya Mulai Krisis Air di Tengah Karhutla, Pemkab Siapkan Empat Water Treatment

12 September 2026 14:27 WIB
Bupati Kubu Raya, Sujiwo. (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com - Di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang belum berakhir, masyarakat Kubu Raya mulai menghadapi persoalan lain: krisis air bersih.

Kebutuhan air meningkat, harga air galon ikut naik, antrean terjadi, bahkan sumber air PDAM mulai terasa asin.

Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya mulai menyiapkan langkah antisipasi agar persoalan air bersih tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Empat unit mobil water treatment dari unsur Brimob, Pasgat/Batalyon, serta Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) disiapkan untuk mengolah sumber air yang telah dipetakan.

Dan diharapkan seluruhnya beroperasi optimal, empat mobil tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 140 ribu liter air dalam 10 jam.

Sejumlah sumber air yang disiapkan antara lain kawasan Taman Makam Pahlwan, kolam Batalyon dan beberapa kolam lainnya.

“Makanya saya agak lega, sumbernya kita sudah ada,” kata Bupati Kubu Raya, Sujiwo, Sabtu (12/9/2026).

Sujiwo menilai, saat ini pemerintah tak bisa hanya fokus memadamkan api. Sebab, dampak karhutla terhadap kebutuhan dasar masyarakat juga harus dipikirkan.

“Bukan hanya memikirkan bagaimana memadamkan api. Ada hal yang sangat krusial, yaitu pasokan air minum,” ujarnya.

Adapun, kata dia, selama sembilan hari penyaluran, Pemkab Kubu Raya telah mendistribusikan sekitar 680.800 liter air bersih kepada masyarakat.

"Rata-rata sekitar 70 ribu liter air disalurkan setiap hari," tambahnya.

Menurut Sujiwo, tingginya kebutuhan air terlihat dari banyaknya laporan masyarakat yang masuk kepada dirinya, baik melalui media sosial maupun komunikasi langsung.

“Ini artinya rakyat sudah susah mendapatkan air minum. Negara harus hadir,” tuturnya.

Di samping itu, Sujiwo menegaskan, pencarian sumber air alternatif tetap dilakukan. 

Pemerintah tidak ingin hanya bergantung pada satu skenario jika kondisi karhutla semakin memburuk.

“Saya tidak boleh lega. Saya masih harus cari alternatif-alternatif,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta camat dan kepala desa ikut bergerak memastikan masyarakat di wilayahnya mendapatkan suplai air.

Desa yang belum memperoleh bantuan air diminta segera dipetakan. Jika kendaraan tangki tidak dapat masuk, pemerintah desa diminta mencari alternatif angkutan dan melaporkan kebutuhan biayanya kepada Pemkab Kubu Raya.

“Jangan semuanya pemerintah kabupaten. Kita mempunyai keterbatasan,” tekan Sujiwo.

Pasalnya, menurut Sujiwo, persoalan air bersih di tengah karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak.

“Situasi sulit seperti ini kita harus bergotong royong, kolaborasi, sinergi,” katanya.

Meski demikian, Sujiwo meminta masyarakat tidak panik. Pemkab Kubu Raya memastikan langkah mitigasi telah disiapkan untuk menjaga pasokan air bersih masyarakat.

“Berkaitan dengan air bersih, tolong jangan khawatir. Kita sudah punya strategi,” pungkasnya. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar