Biaya Produksi Mahal, Pemkab Landak Cari Titik Tengah agar Petani Jagung Untung
LANDAK, insidepontianak.com – Kenaikan biaya produksi mulai menekan petani jagung di Kabupaten Landak. Pupuk semakin mahal. Harga bibit terus naik.
Sementara harga jual jagung tidak stabil. Bahkan cendrung tak menyesuaikan biaya produksi petani.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Landak mendorong keselarasan antara biaya produksi dan harga jual agar usaha petani tetap berkelanjutan.
memastikan terus memantau kondisi yang dihadapi petani, terutama meningkatnya biaya produksi dalam beberapa waktu terakhir.
“Kita perlu mencari titik tengah supaya menguntungkan petani,” ujar Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, harga jagung di tingkat pembeli saat ini bervariasi. Perbedaan harga dipengaruhi jalur pemasaran yang digunakan petani.
Sebagai contoh, pembelian oleh Perum Bulog berada di kisaran Rp5.500 per kilogram. Relatif masih murah.
Sementara di beberapa tempat, pengepul lokal dapat membeli dengan harga yang lebih tinggi.
Menurut Karolin, dinamika harga tersebut perlu dikelola dengan baik agar petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.
Ia pun menegaskan, pengembangan komoditas jagung tidak hanya bergantung pada peningkatan luas tanam. Kepastian pasar dan stabilitas harga juga menjadi faktor penting.
Karolin menilai jagung memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Landak. Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan dibanding sejumlah komoditas pertanian lainnya.
Namun pengembangannya tetap memerlukan pengawalan dari hulu hingga hilir. Mulai dari penyediaan benih dan pupuk, pengendalian hama, hingga akses pemasaran hasil panen.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong penguatan hilirisasi jagung. Salah satunya untuk mendukung kebutuhan pakan di sektor peternakan ayam.
“Dengan hilirisasi, jagung bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi petaninya,” kata Karolin.***
Penulis : Wahyu
Editor : -

Leave a comment