Sehari untuk Alam Bernapas: Ritual Beremah Tutup Saka Dimulai

6 Juni 2026 11:41 WIB
Ritual Beremah dipimpin oleh seorang Panyangahatn, digelar di Tugu Batu Pakat Binua Pantu Seratus yang terletak di Terminal Ngabang sebagai petanda akan dilakukan adat Balala'/IST

LANDAK, Insidepontianak.com - Menjelang senja, denyut aktivitas di Kabupaten Landak perlahan melambat. Di sejumlah sudut kota, toko-toko mulai menutup pintunya lebih awal.

Pasar yang biasanya masih dipenuhi lalu lalang pembeli berangsur sepi. Jalanan yang sehari-hari ramai kendaraan menjadi lebih lengang dari biasanya.

Bagi masyarakat Dayak, saat itulah Balala dimulai. Tepat pukul enam sore, Jumat (5/6/2026), masa pantang adat tersebut diberlakukan ditandai dengan ritual beremah tutup saka di Tugu Batu Pakat Binua Pantu Seratus yang kemudian dilanjutkan dengan penutupan saka/persimbangan jalan disejumlah wilayah.

Ritual beremah tutup saka menandai dimulainya masa pantang Balala'. selama satu hari penuh, masyarakat yang menjalankannya diminta membatasi aktivitas di luar rumah.

Mereka tidak menebang pohon, tidak membakar lahan, tidak berburu, dan menghindari berbagai tindakan yang berpotensi merusak alam.

Di tengah kehidupan modern yang bergerak serba cepat, Balala menghadirkan jeda.
Sehari penuh, manusia diajak berhenti sejenak.

"Masa Balala itu merupakan bagian dari persiapan masyarakat Dayak memasuki tahun berhuma. Pada saat itu masyarakat tidak melakukan hal-hal yang mencederai alam," ujar Bendahara Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Landak, Cahyatanus.

Balala' .merupakan bagian dari siklus panjang kehidupan masyarakat Dayak sebagai peladang yang telah berlangsung turun-temurun.

Siklus itu dimulai pada masa ngawah, yaitu proses sebelum membuka sawah dengan tanda-tanda alam sebagai bentuk kehati-hatian dalam menentukan kawasan yang akan digarap.

Setelah itu dilanjutkan dengan musim tanam dan panen berakhir, masyarakat menggelar Beruah/Baroah atau Naik Dango sebagai ungkapan syukur atas hasil yang diperoleh.

Setelah Beruah/Baroah barulah Balala' digelar. Bukan untuk merayakan sesuatu, melainkan untuk menghormati.

Menghormati tanah yang telah memberi kehidupan. Menghormati hutan yang menyediakan ruang hidup. Menghormati alam yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Timanggong Binua Pantu Seratus, Amat, menyebut Balala' sebagai waktu ketika manusia memberi kesempatan kepada alam untuk beristirahat.

"Setelah Beruah, kita memberi penghormatan kepada alam. Karena itu ada larangan-larangan yang harus dipatuhi selama Balala' berlangsung," katanya.

Di balik berbagai aturan adat yang menyertainya, Balala' sesungguhnya menyimpan pesan yang sederhana sekaligus mendalam: hubungan manusia dengan alam tidak semata-mata hubungan pemanfaatan, tetapi juga hubungan penghormatan.

Gagasan itu terasa semakin relevan ketika berbagai daerah menghadapi persoalan lingkungan, mulai dari berkurangnya tutupan hutan hingga meningkatnya risiko bencana akibat kerusakan ekosistem.

Balala' mengingatkan bahwa alam bukan hanya ruang yang dapat dieksploitasi, melainkan juga ruang yang perlu dijaga keseimbangannya.

Menariknya, nilai yang terkandung dalam Balala' tidak hanya hidup di kalangan masyarakat Dayak.

Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini justru menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat di Landak. Warga dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda ikut menghormati pelaksanaan Balala' dengan menyesuaikan aktivitas mereka.

Sekretaris DAD Kabupaten Landak, Marsianus, mengatakan dukungan masyarakat terus terlihat setiap kali Balala dilaksanakan.

Ia melihat sejumlah pelaku usaha menutup tokonya sesuai waktu yang telah ditentukan. Warga dari berbagai latar belakang juga ikut menjaga suasana tetap tenang selama masa pantang berlangsung.

"Artinya mereka mendukung karena ini merupakan sesuatu yang positif," ujarnya.

Di tengah perbedaan yang ada, Balala' menghadirkan satu kesadaran bersama: bahwa menghormati tradisi tidak selalu harus dimulai dari keyakinan yang sama, tetapi bisa tumbuh dari penghargaan terhadap sesama. Karena itu, Balala' tidak hanya bercerita tentang adat.

Ia juga berbicara tentang cara sebuah masyarakat merawat kebersamaan.
Ketika aktivitas dihentikan dan suara-suara keseharian mereda, yang tersisa bukan sekadar keheningan.

Ada ruang untuk merenung tentang hubungan manusia dengan lingkungannya, tentang pentingnya memberi jeda di tengah kesibukan, dan tentang warisan nilai yang masih dijaga hingga hari ini.

Balala' tahun ini akan berakhir pada Sabtu (6/6/2026) pukul enam sore, ditandai dengan ritual buka saka, ketika portal-portal adat yang sebelumnya dipasang di sejumlah persimpangan dan ruas jalan kembali dibuka.

Bersamaan dengan itu, masyarakat kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Di Landak, selama satu hari dalam setahun, masyarakat memilih berjalan lebih lambat.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terus bergerak tanpa henti, kemampuan untuk berhenti sejenak itulah yang justru menjadi kearifan paling berharga. (*)


Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar