Perjalanan Enam Tahun Grebeg Suro di Landak, Teguh Pambudi: Budaya untuk Kuatkan Keberagaman

29 Juni 2026 12:59 WIB
Penyerahan wayang kulit kepada Bupati Karolin sebagai cendramata dari Pantia Grebeg Suro ke-6 Kabupaten Landak/IST

NGABANG, Insidepontianak.com - Enam tahun lalu, penyelenggara Grebeg Suro di Kabupaten Landak memulai semuanya dengan penuh keraguan.

Belum banyak yang membayangkan perayaan Tahun Baru Jawa itu akan bertahan, apalagi berkembang menjadi festival budaya yang mampu mengundang ribuan pengunjung dan melibatkan ratusan peserta.

Di balik kemeriahan pawai budaya, pertunjukan seni, hingga pagelaran wayang kulit yang menutup Festival Budaya Grebeg Suro Ke-6 pada Sabtu (27/6) malam lalu, tersimpan cerita tentang semangat gotong royong yang perlahan membesarkan sebuah tradisi.

Ketua Panitia Grebeg Suro Ke-6, Teguh Pambudi, mengatakan festival tersebut lahir dari keinginan Paguyuban Jawa Kabupaten Landak untuk menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan budaya Jawa kepada masyarakat yang hidup di tengah keberagaman.

Namun sejak awal, kata dia, Grebeg Suro tidak pernah dimaksudkan sebagai perayaan yang hanya dinikmati satu kelompok masyarakat.

Festival itu justru dibangun sebagai ruang perjumpaan, tempat berbagai suku, agama, dan budaya dapat berkumpul dalam suasana yang hangat.

"Kegiatan Festival Budaya Grebeg Suro ini bertujuan menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya Jawa kepada masyarakat luas, sekaligus mempererat tali persaudaraan antara suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan di Kabupaten Landak," ujar Teguh.

Semangat itu pula yang dituangkan dalam tema tahun ini, Kukuh Manunggal Ngawiji Ngabang Landak (Bersatu dengan kokoh untuk menyatu membangun Ngabang dan Landak).

Bagi panitia, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan harapan agar keberagaman yang dimiliki Kabupaten Landak terus menjadi kekuatan dalam membangun daerah.

"Festival ini menjadi simbol tekad seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat persatuan dalam keberagaman," ucapnya.

Perjalanan enam tahun penyelenggaraan Grebeg Suro menunjukkan bagaimana sebuah kegiatan masyarakat dapat tumbuh melalui kerja bersama.

Dari penyelenggaraan yang sederhana, festival ini kini berkembang menjadi agenda budaya selama empat hari yang diisi beragam kegiatan dan mendapat sambutan luas dari masyarakat.

Antusiasme itu terlihat dari pawai mobil hias yang tahun ini diikuti sekitar 760 peserta.

Di malam penutupan, masyarakat kembali memadati GOR Patih Gumantar Ngabang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit yang menjadi salah satu ikon Grebeg Suro.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, yang mengikuti perkembangan festival tersebut sejak penyelenggaraan pertamanya, mengaku melihat sendiri bagaimana kerja keras panitia mampu membawa Grebeg Suro berkembang hingga memasuki tahun keenam.

"Saya ingat waktu yang pertama dulu, bagaimana paguyuban dan panitia mulai dari bingung mau mulai dari mana, sampai pada akhirnya gotong royong, keroyokan, bisa terselenggara," tutur Karolin, Senin (29/6/2026).

Menurut Karolin, perjalanan Grebeg Suro menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga lahir dari kepedulian masyarakat yang bersedia bekerja bersama.

Pemkab Landak, kata dia, akan terus memberikan ruang bagi seluruh komunitas budaya untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.

"Pemerintah Daerah terus mendukung seluruh kegiatan seni budaya masyarakat yang ada di Kabupaten Landak. Semuanya boleh mengadakan," ujarnya.

Malam itu, Festival Budaya Grebeg Suro Ke-6 ditutup melalui pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Tjempoko Muljo yang dibawakan Dalang Ki Trisnanto.

Lakon tersebut mengangkat pesan tentang kepemimpinan yang bijaksana, ketulusan mengabdi, serta pentingnya integritas.

Namun, bagi panitia maupun masyarakat yang hadir, Grebeg Suro tampaknya telah melampaui makna sebuah perayaan pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.

Selama enam tahun terakhir, festival itu tumbuh menjadi cerita tentang bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan ketika dirawat bersama, dibangun dengan gotong royong, dan dibuka untuk siapa saja tanpa memandang latar belakang. (*)


Penulis : Ya Wahyu
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar