Sebelas Tahun Menjaga Tawa di Ngabang, Stand Up Indo Landak akan Mulai Rutin Open Mic Kembali

1 Juli 2026 15:49 WIB
Anggota Stand Up Indo Landak seusai mengisi acara Stand Up di Lokale Ngabang/IST

LANDAK, Insidepontianak.com - Sebelas tahun lalu, tawa penonton tak pernah seriuh sekarang. Begitulah Pyan Dalimunthe mengenang malam-malam open mic pada masa awal berdirinya Stand Up Indo Landak di Ngabang.

Saat itu, membuat orang tertawa ternyata bukan tantangan terbesar. Tantangan sesungguhnya adalah membuat orang mengerti apa yang sedang mereka tonton.

Di hadapan seorang komika yang berdiri sendiri sambil menggenggam mikrofon, banyak penonton hanya saling pandang. 

Mereka belum memahami mengapa seseorang berdiri beberapa menit di atas panggung, bercerita, lalu berharap orang lain tertawa.

"Ini mereka kenapa, sih?" begitu Pyan menirukan kebingungan sebagian penonton pada masa-masa awal itu.

Tak jarang, penonton yang hadir pun sebenarnya bukan datang untuk menikmati stand up comedy. Mereka hanya kebetulan sedang berada di kafe.

Ada yang asyik mengobrol, ada yang sibuk menyantap makanan, sementara para komika tetap berusaha menyelesaikan materi yang telah mereka siapkan.

Kini suasananya berubah. Ketika anggota Stand Up Indo Landak tampil dibeberapa event/acara banyak orang datang memang untuk menonton.

Mereka mengikuti alur cerita, menunggu punchline, lalu tertawa bersama ketika bagian paling lucu akhirnya tiba.

Perubahan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi Pyan, itulah pencapaian terbesar yang berhasil dirasakan komunitasnya selama sebelas tahun terakhir.

Stand Up Indo Landak berdiri pada 2015. Saat itu, sekelompok anak muda yang sama-sama menggemari stand up comedy sepakat membentuk sebuah komunitas kecil di Kabupaten Landak.

Tujuannya sederhana, memiliki tempat berkumpul sekaligus ruang untuk belajar melucu.

Pyan mengaku bukan termasuk orang yang mendirikan komunitas tersebut. Ia hanya salah satu anggota generasi awal yang masih bertahan hingga sekarang.

"Jadi ketua karena paling tua. Jadinya yang dituakan," ujarnya sambil tertawa.

Bagi Pyan, komunitas itu sejak awal tidak dibangun untuk mengejar popularitas. Semua berangkat dari hobi.

Mereka berkumpul karena sama-sama menikmati stand up comedy, lalu perlahan menyadari bahwa Kabupaten Landak juga membutuhkan ruang bagi siapa saja yang ingin mengembangkan bakat di bidang itu.

"Kenapa Stand Up Indo Landak tetap bertahan? Karena kami ingin ada tempat untuk anak-anak muda, bahkan siapa pun orang Landak, yang ingin mengembangkan bakatnya di stand up comedy," katanya.

Meski dari luar terlihat sederhana, menjadi komika ternyata bukan sekadar berani berbicara di depan banyak orang.

Di balik lima atau sepuluh menit penampilan di atas panggung, ada proses kreatif yang panjang.

Semua berawal dari keresahan. Keresahan itu ditulis menjadi materi, kemudian dibahas bersama sesama komika dalam sesi yang mereka sebut combud atau comedy buddy.

Di sana, setiap kalimat diuji, dipotong, ditambah, hingga ditemukan punchline yang dianggap paling efektif mengundang tawa.

"Stand up comedy itu pure seni. Materinya harus orisinal. Tidak boleh menjiplak. Orang cuma lihat kami beberapa menit di atas panggung, padahal proses menulisnya bisa jauh lebih lama," tutur Pyan.

Menurutnya, setiap komika memiliki sudut pandang yang berbeda. Ada yang gemar mengangkat keresahan sehari-hari, ada yang bercerita tentang pekerjaan, keluarga, hingga fenomena sosial dan politik yang sedang ramai dibicarakan.

Namun, ia mengingatkan bahwa kritik dalam stand up comedy tetap memiliki batas. Menyindir boleh, tetapi tidak untuk menjatuhkan atau menyerang seseorang secara langsung.

"Kalau sarkas masih boleh. Tapi kalau sudah menunjuk orang, membuka aib atau menjatuhkan, itu sudah bukan stand up comedy lagi," ujarnya.

Kini, Stand Up Indo Landak akan rutin menggelar kembali open mic setiap dua pekan sekali di Kafe Heika, Ngabang.

Selain menjadi panggung bagi para komika lama, kegiatan itu juga terbuka bagi siapa saja yang ingin mencoba berdiri untuk pertama kalinya di depan mikrofon.

Sebelas tahun berlalu sejak malam-malam ketika para komika harus melucu di hadapan orang yang bahkan belum memahami apa itu stand up comedy.

Kini, mereka tak lagi sibuk menjelaskan arti stand up comedy kepada penonton.

Mereka cukup naik ke atas panggung, menggenggam mikrofon, lalu membiarkan tawa yang berbicara. (*)


Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar