Era AI Ubah Wajah Pendidikan, FKIP Unisma Dorong Penguatan Pembelajaran Karakter

16 Mei 2026 16:10 WIB
Rektor Unisma, Prof Junaidi Mistar, membuka kegiatan seminar nasional bertajuk: “Reimagining Education in the Age of AI: From Knowledge Transfer to Human Transformation.” (Istimewa)

MALANG, insidepontianak.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mendorong dunia pendidikan bertransformasi.

Pendidikan dinilai tak lagi cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan adaptif manusia di tengah perubahan teknologi.

Isu itu menjadi pembahasan utama dalam seminar nasional bertajuk: “Reimagining Education in the Age of AI: From Knowledge Transfer to Human Transformation.”

Seminar itu digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma). Berlangsung di Gedung Utsman bin Affan Lantai 7 Unisma, Jumat (15/5/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi FKIP Unisma, SEAMEO QITEP in Language, dan Asosiasi Jalin Pena Indonesia.

Seminar diikuti ratusan peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, guru, praktisi pendidikan, hingga mitra kelembagaan.

Dekan FKIP Unisma, Hamiddin, menegaskan AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat pendidikan yang lebih humanis dan adaptif.

“Karena itu, kita harus mampu membentuk manusia yang kreatif, berkarakter, adaptif, dan memiliki sensitivitas sosial di tengah perkembangan teknologi AI,” ujarnya.

Menurutnya, seminar tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk membangun paradigma pendidikan yang lebih transformatif di era digital.

Sementara itu, Ketua Jalin Pena Indonesia (JPI), Misbah Fikrianto, menilai sinergi antarlembaga menjadi kunci menghadapi tantangan pendidikan global di era AI.

“Era AI menuntut dunia pendidikan untuk bergerak bersama. Tidak ada institusi yang bisa berjalan sendiri,” katanya.

Rektor Unisma, Prof Junaidi Mistar, juga menegaskan komitmen kampus dalam mendukung inovasi pendidikan berbasis teknologi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.

“Artificial Intelligence hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana manusia tetap menjadi pengendali utama dengan nilai moral, etika, dan kebijaksanaan,” tegasnya.

Selain seminar nasional, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penandatanganan kerja sama strategis berupa Memorandum of Understanding (MoU), Perjanjian Kerja Sama (PKS), dan Implementation Agreement (IA).

Empat program studi di lingkungan FKIP Unisma turut menandatangani kerja sama dengan JPI dan SEAMEO QITEP in Language. FKIP Unisma juga menjalin kolaborasi dengan STKIP Syekh Mansur dan Politeknik Assalam Surakarta.

Melalui kegiatan ini, FKIP Unisma menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan kolaboratif di tingkat nasional dan internasional.

Di tengah pesatnya perkembangan AI, pendidikan dinilai harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat perubahan.***


Penulis : Fauzi/biz
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar