Sebelum Kecelakaan Bus Damri di Sanggau, Ada Laporan Gangguan Rem Diduga Diabaikan
PONTIANAK, insidepontianak.com – Kecelakaan Bus Damri di Sanggau tak sekadar menyisakan duka. Di balik musibah tersebut, muncul dugaan kelalaian dalam pengelolaan armada.
Bus rute Sintang–Pontianak itu tergelincir di turunan curam Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah, Desa Penyeladi, Minggu (5/4/2026).
Pemicunya? Diduga rem blong. Bus oleng. Lalu nyungsep ke tepi Sungai Kapuas. Geger. Arus lalu lintas langsung lumpuh. Macet total.
Di lokasi, suasana kacau. Warga setempat berhamburan. Pengendara berhenti. Evakuasi dilakukan seadanya.
Satu penumpang tewas di tempat. Polisi datang. Sebanyak 27 korban luka-luka dirujuk ke RSUD M.Th. Djaman Sanggau.
Bus Modern
Bus nahas itu bernomor polisi KB 7710 S. Jenisny: Mercedes-Benz. Diproduksi tahun 2018. Dilengkapi sistem modern: transmisi otomatis, rem angin (air brake), ABS, retarder, hingga ECU.
Sistem ini seharusnya memberi peringatan dini saat terjadi gangguan. Artinya, kerusakan tidak muncul tiba-tiba tanpa tanda.
Sumber Insidepontianak.com menyebut, pengoperasian bus dengan spesifikasi tersebut tidak bisa sembarangan. Pengemudi harus berpengalaman. Sopir baru wajib didampingi.
“Harus ada sopir senior,” ujarnya.
Sementara sopir bus itu disebut baru sebulan bekerja. Ia berinisial IN (27). Sebelumnya, ia sopir ekspedisi.
“Dia masih baru,” kata sumber lain.
Masalah Rem
Dugaan kelalaian semakin menguat setelah terungkap adanya laporan gangguan rem yang diabaikan.
Sebelum kecelakaan, Bus itu lebih dahulu berangkat dari Terminal Ambawang menuju Kabupaten Sambas pada Jumat, 3 April 2026. Sopirnya bernama Sandi.
Keesokan harinya, bus kembali ke Terminal Ambawang. Dalam perjalanan, Sandi merasakan gangguan pada sistem pengereman. Ia pun sudah melaporkannya ke perusahaan.
Namun bus tetap dioperasikan. Sabtu, 4 April 2026, kendaraan kembali melayani angkutan penumpang rute Terminal Ambawang–Pinoh.
Sopir juga sempat memastikan kondisi rem sebelum berangkat kepada otoritas perusahaan. Namun kendaraan disebut laik jalan.
Di perjalanan, keluhan pengereman muncul lagi. Minggu, 5 April 2026, bus tetap dioperasikan. Rutenya, Sintang-Pontianak. Kali ini, IN yang bertugas sebagai sopir.
Kendaraan dibawa lebih pelan. Untuk mengantisipasi masalah rem yang sebelumnya dikeluhkan. Namun kewaspadaan itu tak cukup.
Saat melintasi turunan Penyeladi yang curam dan berliku, sistem pengereman diduga gagal bekerja. Bus kehilangan kendali. Meluncur ke sisi jalan. Berhenti tepat di pinggir Sungai Kapuas.
Dari rangkaian fakta itu, muncul pertanyaan: mengapa bus yang diduga bermasalah tetap dioperasikan?
Klaim Sesuai Prosedur
General Manager Perum DAMRI Cabang Pontianak, Ahmad Bukhari, tidak membantah pengemudi tergolong baru. Namun ia memastikan, sopir itu layak membawa armada dengan persyaratan yang terukur.
“Pengemudi telah memenuhi persyaratan kelayakan operasional,” ujarnya.
Ia juga memastikan armada telah melalui pemeriksaan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) sebelum beroperasi melayani angkutan umum. Termasuk sistem pengereman telah dicek.
“Seluruh aspek keselamatan sudah dicek untuk memastikan kendaraan laik jalan,” katanya.
Meski beigu, Ahmad menyatakan, perusahaan mendukung proses penyelidikan kepolisian untuk mengungkap penyebab kecelakaan dan akan melakukan evaluasi menyeluruh.
Investigasi Polisi
Direktorat Lalu Lintas Polda Kalimantan Barat turun tangan menyelidiki penyebab kecelakaan. Investigasi menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA).
Metode ini memanfaatkan pemindai laser 3D, drone, dan perangkat lunak rekonstruksi untuk mengurai penyebab kecelakaan secara detail.
“Hasil akan disampaikan setelah seluruh bukti terkumpul,” ujar Kanit Gakkum Satlantas Polres Sanggau, Ipda Ade.
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Barat, Prabasa Anantatur, mendukung proses investigasi untuk memastikan ada tidaknya unsur kelalaian.
“Kalau benar karena rem blong, berarti ada masalah serius pada kendaraan. Ini harus diungkap,” tegasnya.
Di sisi lain, Prabasa juga mendorong evaluasi total jalur Transkalimantan. Pelebaran jalan dinilai mendesak. Kondisi jalan sempit dan padat meningkatkan risiko kecelakaan.
“Truk besar dominan. Jalannya sempit. Ini berbahaya. Jalan ini harus jadi perhatian. Jangan sampai terus makan korban,” pungkasnya.***
Penulis : Andi Ridwansyah/Ansar
Editor : -
Tags :

Leave a comment