Didemo Mahasiswa, Direktur Polnep Setujui Empat Tuntutan BEM

9 April 2026 12:09 WIB
Direktur Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) Widodo menemui para mahasiswa yang melakukan demonstrasi di depan gedung rektorat, Rabu (8/4/2026) sore. (Insidepontianak.com/Greg)

PONTIANAK, insidepontianak.com – Direktur Politeknik Negeri Pontianak (Polnep), Widodo, menyetujui empat tuntutan mahasiswa terhadap kepemimpinannya.

Komitmen itu ditegaskan dengan penandatanganan pernyataan sikap saat aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polnep, pada Rabu (8/4/2026).

Tuntutan mahasiswa mencakup perbaikan tata kelola kampus hingga respons atas isu dugaan skandal asrmara menyeret nama sang Direktur yang berkembang di publik. empat tuntutan itu sebagai berikut:

Pertama, mahasiswa meminta Ketua Senat mengevaluasi kepemimpinan untuk mengembalikan integritas dan profesionalitas kampus.

Kedua, mendesak direktur menyelesaikan berbagai persoalan, baik yang menyangkut hak mahasiswa maupun birokrasi.

Ketiga, menuntut transparansi penggunaan dana kampus sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008.

Keempat, menyoroti isu dugaan pelanggaran etik yang beredar di publik, serta meminta penanganan tegas sesuai aturan jika terbukti.

Ketua BEM Polnep, Muhammad Iqbal memastikan aksi yang mereka gelar muncul secara organik. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi kampus.

Menurutnya, sejumlah isu berkembang di lingkungan kampus, mulai dari tata kelola hingga isu pribadi yang menjadi perhatian mahasiswa.

“Kami mendorong Ketua Senat segera mengambil langkah objektif, transparan, dan bertanggung jawab, serta memberi penjelasan kepada seluruh civitas akademika,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Widodo menyatakan tuntutan mahasiswa menjadi bagian dari klarifikasi atas isu yang berkembang.

Ia mengaku kesulitan memberikan penjelasan di ruang publik karena informasi yang beredar berasal dari akun anonim di media sosial.

“Saya mau klarifikasi ke mana? Akunnya yang mana?” ujarnya.

Ia menegaskan, klarifikasi telah dilakukan secara internal kepada jajaran pimpinan kampus sejak isu muncul.

“Saat isu itu mencuat, saya sedang menjalankan ibadah umrah,” tambahnya.

Menurutnya, klarifikasi terbuka tidak selalu mengubah pandangan publik. “Yang percaya tidak perlu klarifikasi. Yang tidak percaya, tetap tidak percaya,” katanya.

Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kondisi fasilitas kampus. Mulai dari atap bocor hingga gangguan air.

Widodo mengakui adanya kerusakan. Namun, perbaikan harus melalui proses perencanaan karena berkaitan dengan aset negara.

“Ada yang sebelumnya tidak saya tahu, sekarang jadi tahu. Itu membantu kami untuk memperbaiki,” pungkasnya.***


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar