Era Disrupsi Ubah Peran Juru Bicara, Tak Lagi Sekadar Penyampai Pesan
PONTIANAK, insidepontianak.com – Perubahan teknologi digital dan pola komunikasi publik membuat peran juru bicara semakin strategis.
Di tengah derasnya arus informasi, juru bicara tidak lagi cukup hanya menyampaikan pesan pimpinan, tetapi dituntut mampu mengelola komunikasi strategis, membangun kepercayaan publik, sekaligus merespons dinamika informasi yang bergerak cepat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peluncuran dan bedah buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi, karya Prof. Marlinda Irwanti Poernomo dan Benny Siga Butarbutar MSi., yang digelar di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat (11/9).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari mengatakan, perubahan lanskap komunikasi membuat posisi juru bicara semakin penting.
Menurutnya, masyarakat kini memperoleh informasi dari semakin banyak kanal. Pada saat yang sama, tingkat kepercayaan terhadap berita menghadapi tantangan sehingga komunikasi pemerintah tidak bisa lagi hanya dipandang sebagai aktivitas penyampaian informasi.
“Dalam ruang media seperti itu, diam bukanlah sikap netral. Ruang informasi tidak pernah kosong. Ketika negara tidak menjelaskan kebijakannya, selalu ada pihak lain yang akan menjelaskan versi mereka,” ujar Qodari.
Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam komunikasi pemerintah. Konsep satu suara, kata dia, bukan berarti seluruh komunikasi harus disampaikan oleh satu orang, melainkan memastikan konsistensi angka, istilah, fakta, dan narasi yang disampaikan kepada publik.
Juru Bicara sebagai Chief Reassurance Officer
Marlinda Irwanti mengatakan, juru bicara tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai orang yang memiliki kemampuan berbicara di depan publik.
Ia menganalogikan juru bicara seperti dirigen dalam sebuah orkestra yang memiliki peran penting dalam memastikan komunikasi berjalan secara terarah.
Buku tersebut menawarkan konsep juru bicara sebagai Chief Reassurance Officer. Perannya bukan membuat persoalan seolah-olah tidak ada, tetapi meyakinkan masyarakat bahwa persoalan nyata sedang dihadapi secara serius.
“Bagi saya, juru bicara bukan sekadar orang yang pandai berbicara,” ujar Marlinda.
Bersama Benny, ia menempatkan profesi juru bicara dalam cakupan yang lebih luas, meliputi strategi, politik, etika, hingga tanggung jawab kepada publik.
Benny mengatakan, sedikitnya ada empat elemen yang harus dimiliki juru bicara integratif, yakni leadership communication, sense making, stakeholder communication, dan pemahaman terhadap strategic decision making.
Keempat elemen tersebut dinilai penting agar komunikasi yang dilakukan tidak hanya mampu menjawab persoalan sesaat, tetapi juga memberikan dampak positif yang berkelanjutan.
Bukan Sekadar Pembaca Pernyataan
Benny menegaskan, juru bicara kini merupakan aktor strategis yang turut membentuk persepsi publik, mengelola krisis komunikasi, serta menjaga kredibilitas dan legitimasi institusi yang diwakilinya.
Pendekatan buku tersebut memadukan perspektif manajemen komunikasi, ilmu politik, psikologi massa, dan etika.
Salah satu dilema yang dibahas adalah bagaimana juru bicara menjaga keseimbangan antara loyalitas kepada pimpinan dan tanggung jawab kepada publik. Termasuk menghadapi tarik-menarik antara kebutuhan menjaga kerahasiaan dan tuntutan transparansi, serta antara fungsi persuasi dan risiko komunikasi berubah menjadi propaganda.
Dalam bedah buku tersebut, pembahasan menghadirkan empat perspektif, yakni akademik, pemerintah, korporasi dan praktisi komunikasi publik, serta media.
Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik Prof. Dr. Gun Gun Heryanto menilai juru bicara harus ditempatkan di arus utama perubahan sosial dan memperoleh akses langsung kepada pimpinan institusi.
Sementara Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI Fifi Aleyda Yahya menilai juru bicara telah mengalami perubahan peran. Ia tidak lagi sekadar menyampaikan pernyataan resmi, tetapi menjadi personifikasi institusi, penerjemah kebijakan, penghubung pemerintah dan masyarakat, hingga arsitek kepercayaan publik.
Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto menambahkan, juru bicara telah berkembang menjadi leader of meaning, penjaga legitimasi organisasi, penghubung kepemimpinan dengan masyarakat, sekaligus penjaga kepercayaan.
Dari perspektif media, Wakil Pemimpin Umum 2 Harian Kompas Paulus Tri Agung Kristanto menegaskan bahwa juru bicara bukan sekadar humas yang bertugas mencari alasan atau menghindari pertanyaan.
Juru bicara, menurutnya, harus mampu menghadirkan sosok institusi dan pemimpin yang memahami persoalan serta memiliki strategi komunikasi sehingga institusi maupun pemimpin yang diwakilinya tetap memiliki marwah.
Buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi diterbitkan Rajawali Pers. Buku ini ditulis Marlinda Irwanti Poernomo yang memiliki latar belakang akademik dan komunikasi politik, serta Benny Siga Butarbutar yang memiliki pengalaman panjang di bidang jurnalistik, komunikasi korporasi, dan pemerintahan. (ANT)
Penulis : REDAKSI/ANT
Editor : -

Leave a comment