Prasasti Adam Malik dan 45 Tahun PTPN Ubah Wajah Sanggau dan Kalbar

5 September 2026 03:08 WIB
Prasasti pembangunan perkebunan modern di Kalimantan Barat. (Istimewa)

SANGGAU, insidepontianak.com — Dalam ingatan Entang Sesepian, masa kecilnya di pedalaman Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, 45 tahun silam, penuh dengan kenangan perjuangan melawan keterisolasian. Mulai dari menapak jalan tanah, menerjang arus sungai, hingga mempertaruhkan nyawa demi menuntut ilmu.

Untuk sampai ke sekolah dari Kampung Pintu Sepuluh menuju Meliau, ia harus menyusuri jalur setapak berkilo-kilometer di tengah belantara. Di beberapa titik, sungai terpaksa diarungi karena ketiadaan jembatan.

Entang ingat betul, perekonomian masyarakat di kampungnya saat itu sangat bergantung pada hasil alam. Sebagian besar warga mengandalkan mata pencaharian dari berladang padi.

Ketika pendapatan tak mencukupi, hijrah ke kampung lain menjadi pilihan untuk mencari pekerjaan sebagai penyadap karet demi mendapat penghasilan tambahan.

“Hanya itu yang bisa dikerjakan karena pendidikan juga sangat terbatas,” kata Entang mengenang masa itu.

Setelah 45 tahun berlalu, lanskap sosial dan ekonomi di wilayah tersebut berubah total. Jalan setapak kini menjadi penghubung antarkawasan.

Perkebunan kelapa sawit tumbuh menjadi salah satu urat nadi ekonomi penting. Sebagian warga bekerja di perusahaan, sementara yang lain mengelola kebun plasma dan kebun rakyat.

Menurut Entang, perubahan besar itu berawal dari sebuah peristiwa pada 29 Agustus 1981. Di kawasan Sungai Dekan, Sanggau, Wakil Presiden saat itu, Adam Malik, meresmikan penanaman perdana kelapa sawit sekaligus menandatangani prasasti pembangunan perkebunan modern di Kalimantan Barat.

Momentum tersebut menandai dimulainya perjalanan panjang perkebunan kelapa sawit yang kemudian turut membentuk struktur perekonomian di Kalimantan Barat.

Keterisolasian Terbuka

Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat tidak terlepas dari kebijakan Program Perkebunan Inti Rakyat (PIR-BUN). Melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1977 dan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1980, pemerintah menugaskan Perusahaan Negara Perkebunan VII untuk membuka kebun sawit di Kalbar.

Tantangannya bukan semata menanam bibit. Kawasan yang dikembangkan ketika itu masih berupa belantara dengan akses yang amat terbatas. Infrastruktur dasar, mulai dari jalan, perumahan, sekolah, hingga fasilitas kesehatan, harus dibangun dari nol secara bertahap.

Bagi Entang, perubahan itu mulai dirasakan langsung saat ia bergabung dengan perusahaan pada 21 November 1984 sebagai centeng kebun. Ia kemudian bertugas di bagian pengamanan Pabrik Kelapa Sawit Rimba Belian hingga purnatugas pada 2013.

Transformasi ekonomi warga kian melesat ketika perusahaan mulai mengembangkan kebun plasma melalui pola Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) pada 1998.

“Sejak adanya kebun plasma, masyarakat punya pendapatan mandiri sehingga bisa menyekolahkan anak sampai sarjana. Sekarang, sarjana sudah lumayan banyak di kampung,” ujar Entang.

Transformasi Kelembagaan

Pengelolaan perkebunan yang bermula pada era Perusahaan Negara Perkebunan kemudian mengalami reorganisasi. Pada 1996, pengelolaan beralih ke PT Perkebunan Nusantara XIII.

Transformasi besar kembali berlangsung setelah restrukturisasi Perkebunan Nusantara pada 2023. Perkebunan kelapa sawit PTPN di wilayah ini resmi menjadi bagian dari PTPN IV Regional V di bawah subholding PalmCo.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan perusahaan terus berupaya memperkuat kemitraan dengan petani, termasuk melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Hingga semester I-2026, PalmCo telah menyerap sekitar 1,73 juta ton tandan buah segar (TBS) dari petani mitra secara nasional.

“Untuk mendukung implementasi bauran energi B50 dan ketahanan pangan nasional, PalmCo terus memperkuat pelaksanaan PSR serta memastikan serapan hasil panen pekebun berjalan optimal,” ujarnya.

Akselerasi PSR

Di Kalimantan Barat, PTPN IV Regional V kini mengelola areal perkebunan seluas 63.242,61 hektare yang didukung lima pabrik kelapa sawit dengan kapasitas pengolahan total 240 ton TBS per jam.

Region Head PTPN IV Regional V, Sudarma Bhakti Lessan, menegaskan bahwa perusahaan kini menempatkan produktivitas, kemitraan pekebun, penciptaan nilai tambah, serta aspek lingkungan sebagai pilar utama transformasi.

“Keberhasilan industri tidak lagi sekadar diukur dari perluasan areal, melainkan kemampuan kita meningkatkan produktivitas, memperkuat kemitraan dengan pekebun, menciptakan nilai tambah, dan menjaga harmoni dengan lingkungan,” ujar Sudarma.

Salah satu fokus utamanya adalah Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Selain itu, pada areal yang memasuki masa replanting, PTPN IV Regional V juga mengembangkan budidaya kedelai dan tumpang sari jagung untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.

Peran Besar PTPN

Sebagai tempat sejarah perkebunan sawit bermula, Kabupaten Sanggau memiliki ikatan historis yang kuat dengan PTPN. Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, mengakui peran besar PTPN dalam membuka keterisolasian daerah, meski perjalanan panjang tersebut juga diwarnai berbagai dinamika sosial.

Memasuki usia ke-45 tahun industri ini, Pemkab Sanggau berharap PTPN fokus pada fase pemulihan dan penataan kembali tanaman yang sudah menua (old palm), khususnya di wilayah Kembayan hingga Gunung Meliau.

“Program replanting harus menjadi langkah krusial. Kami berharap PTPN tidak sekadar berorientasi pada profit, tetapi kembali memainkan peran esensialnya sebagai agent of development,” tegas Yohanes Ontot.

Tantangan Hilirisasi

Tantangan berikutnya datang dari sektor hilirisasi. Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, berharap industri perkebunan di Kalbar tidak berhenti pada produksi minyak sawit mentah (CPO) dan inti sawit (kernel) saja, melainkan berani mengolah produk turunan demi menciptakan nilai tambah ekonomi di daerah.

Di samping itu, Pemprov Kalbar juga mendorong penyerapan sarjana dan tenaga kerja lokal untuk mengisi posisi-posisi strategis di industri perkebunan.

“Di Kalbar sudah banyak tenaga kerja mumpuni, termasuk lulusan sarjana pertanian yang tak terhitung jumlahnya. Saya berharap tenaga kerja potensial asal Kalbar ini terus diberdayakan secara optimal pada posisi-posisi yang strategis,” ujar Krisantus.

Setelah 45 tahun sejak Adam Malik menandatangani prasasti di Sungai Dekan, wajah Sanggau dan Kalimantan Barat telah berubah drastis. Sawit bukan lagi sekadar komoditas perkebunan, melainkan penggerak utama urat nadi perekonomian kawasan.

Peringatan empat setengah dekade ini menjadi penanda penting peralihan PTPN IV Regional V: dari fase historis membuka lahan dan membangun jalan, menuju fase modernisasi yang menuntut produktivitas tinggi, keberlanjutan lingkungan, serta kesejahteraan bagi masyarakat lokal.***


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar