Kemarau dan Kabut Asap Menghimpit Warga Kayong Utara. Air Mahal, Napas Sesak
KAYONG UTARA, insidepontianak.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kemarau panjang mulai menguras kocek warga di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Sejumlah masyarakat harus mengeluarkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Eko, warga Kecamatan Simpang Hilir, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Untuk memenuhi kebutuhan air, ia harus membeli air bersih dengan harga Rp350 ribu untuk setiap 2.000 liter.
“Kalau beli air bersih itu 2.000 liter Rp350 ribu. Kalau sebulan empat kali beli, dihitung saja berapa uang,” keluh Eko, Jumat (18/9/2026).
Menurut dia, beban tersebut semakin terasa karena pendapatan masyarakat sedang sulit, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Pengeluaran untuk membeli air bersih akhirnya menjadi tambahan beban bagi rumah tangga.
“Untuk sehari-hari saja kita sudah kesulitan untuk hidup, ini ditambah kemarau air kita beli dengan harga yang tidak murah,” ungkapnya.
Selain persoalan air bersih, Eko menyebut masyarakat juga menghadapi dampak kabut asap akibat karhutla yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut membuat kesehatan warga semakin rentan, terutama karena kualitas udara yang buruk.
“Air sulit, udara sudah berbulan kabut, sesak napas, tinggal nunggu penuh jak rumah sakit itu,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah segera mempercepat penyaluran air bersih ke wilayah yang terdampak kemarau. Menurut Eko, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan finansial untuk membeli air secara rutin.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kayong Utara sebelumnya menyebut telah memperoleh dukungan anggaran sebesar Rp20 miliar dari pemerintah pusat untuk penanganan dampak karhutla dan kekeringan.
Namun, anggaran tersebut hingga kini masih dalam proses perumusan penggunaan. Pemerintah daerah menyatakan pemanfaatannya harus disesuaikan dengan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis).
Bupati Kayong Utara Romi Wijaya mengatakan dana tersebut merupakan bantuan dari Presiden untuk mendukung penanganan kondisi yang dihadapi daerah.
“Kalau anggaran kita sudah dibantu oleh Bapak Presiden, kita sudah dana sebanyak Rp20 miliar. Ini sedang dirumuskan penggunaannya sesuai juklak dan juknis,” kata Romi usai menghadiri rapat paripurna, Senin (14/9/2026).
Kondisi ini membuat kebutuhan warga terhadap intervensi pemerintah semakin mendesak, terutama untuk memastikan ketersediaan air bersih sekaligus menangani dampak kesehatan akibat kabut asap di tengah kemarau panjang. (*)
Penulis : Fauzi
Editor : -

Leave a comment