MBG Ramadan di SMAN I Kubu Raya Tak Layak Gizi, Ini Penjelasan Pihak Sekolah

25 Februari 2026 14:00 WIB
Kepala SMA Negeri 1 Rasau Jaya, Kubu Raya, Sugiat. (insidepontianak.com/Greg)

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Video pengembalian paket Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan di SMA Negeri 1 Rasau Jaya, Kubu Raya viral di media sosial baru-baru ini. Pasalnya, komposisi makanan yang diterima, dinilai tidak memenuhi standar gizi bagi siswa SMA.

Adapun keputusan pengembalian paket MBG itu disebut, berdasarkan kesepakatan siswa setelah menilai menu yang diterima tidak layak untuk jatah dua hari.

Kepala SMAN 1 Rasau Jaya, Sugiat, membenarkan bahwa sebanyak 794 porsi MBG sempat dikirim ke sekolah. 

Namun, hanya empat siswa yang terlanjur menerima sebelum akhirnya paket diputuskan untuk dikembalikan.

“Intinya sudah selesai. Itu karena miskomunikasi antara sekolah dan SPPG,” kata Sugiat kepada insidepontianak.com, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, persoalan bermula dari paket yang diklaim sebagai jatah untuk dua hari, yakni Senin dan Selasa, tanpa penjelasan teknis pembagiannya.

Sebagaimana diketahui, paket dibungkus plastik bening. Isinya: setengah jagung rebus, satu piscok, satu bolu kukus, lima kurma, tiga butir kelengkeng, dan satu jeruk.

Menu itu untuk jatah dua hari. Namun, di lapangan, siswa mempertanyakan kelayakan dan kecukupan porsinya.

“Penjelasannya hanya disebut untuk dua hari, tapi tidak dijelaskan mana untuk hari pertama dan mana untuk hari kedua,” jelas Sugiat.

Ia menyebut, respons siswa terjadi spontan, bahkan sempat muncul aksi protes karena merasa menu tersebut tidak sepadan untuk menunjang aktivitas belajar.

Sementara itu, siswa kelas 12, Miko Irawan, mengungkapkan langsung kondisi paket yang mereka terima.

“Itu selama dua hari, dari hari Senin sampai hari Selasa. Pas dikasih itu langsung diambil,” ujar Miko.

Ia menerangkan, bahwa distribusi biasanya tiba sekitar pukul 11.30 hingga 12.00 siang. 

Pada Senin (23/2/2026) siswa tidak menerima jatah, sehingga pada Selasa diberikan paket yang diklaim mencakup dua hari sekaligus.

“Anak-anak pada protes, melihat kayak gitu kan gak layak untuk dua hari,” tambahnya.

Sekolah Tegaskan Bukan Tolak Program

Sugiat menegaskan, pengembalian paket bukan bentuk penolakan terhadap program MBG, melainkan hasil kesepakatan bersama siswa setelah mempertimbangkan kondisi di lapangan.

“Kami tidak menolak programnya. Ini soal komunikasi dan teknis pembagian saja. Sekarang sudah selesai, sudah sama-sama cair,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekolah sebelumnya telah dua kali mengalami pergantian SPPG karena penyesuaian wilayah pelayanan. 

Ke depan, pihak sekolah berencana memperbaiki pola komunikasi agar penyaluran MBG Ramadan berjalan lebih baik dan tidak kembali menimbulkan polemik. (Greg)


Penulis : Gregorius
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar