Empat Bulan Tak Kunjung Hujan, Warga Ngabang Bertahan dengan Air Galon
LANDAK, Insidepontianak.com – Sudah hampir empat bulan Holipah mencatat hari-hari tanpa hujan. Tanggal 2 Juni 2026 ia tandai di dinding rumah sebagai awal kemarau yang hingga kini belum juga berakhir.
“Sudah masuk empat bulan. Cuma delapan hari ada hujan. Saya catat di dinding, tanggal 2 bulan 6 mulai kemarau ini,” kata Holipah, Kamis (3/9/2026).
Bagi Holipah, kemarau kali ini terasa lebih berat dibandingkan kemarau panjang yang pernah ia alami sebelumnya. Pada 1997, kemarau pernah berlangsung sekitar enam bulan. Namun, saat itu sumber air di sekitarnya belum sampai mengering seperti sekarang.
“Kemarau ini yang paling parah," ujarnya.
Untuk kebutuhan mandi, Holipah masih mengandalkan air yang diambil dari sumber air setempat. Namun, untuk minum dan kebutuhan makan, ia harus membeli air galon.
Satu galon dibelinya seharga sekitar Rp6.000. Karena tinggal seorang diri, satu galon dapat bertahan hingga tiga atau empat hari untuk kebutuhan minum.
“Kalau untuk makan, beli air galon. Satu galon Rp6.000. Kalau saya sendiri, tiga sampai empat hari satu galon untuk minum,” katanya.
Persoalan air bersih menjadi lebih terasa ketika suplai air perpipaan tidak berjalan. Holipah mengatakan, jika air PDAM mengalir, ia tidak perlu membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau PDAM jalan, tidak perlu beli. Anak yang mengambil. Tapi sekarang bor air keluarga juga tidak jalan, tidak ada air,” ujarnya.
Kondisi serupa dirasakan Suminus, warga Gang Keluarga, Sungai Buluh. Ia mengatakan kebutuhan air untuk memasak dan minum kini harus dipenuhi dengan membeli air galon.
“Sangat susah sekali. Pokoknya untuk masak, untuk minum, itu harus beli,” kata Suminus.
Dalam sehari, keluarganya dapat menggunakan sekitar dua galon. Air galon yang diantar ke rumah dihargai sekitar Rp7.000 hingga Rp8.000 per galon, bergantung pada jarak pengantaran.
“Makanya setiap hari dua galon, dua galon. Apa enggak tekor?” ujarnya sambil tertawa kecil.
Sebelum persediaan air semakin terbatas, Suminus masih mengandalkan air hujan yang ditampung menggunakan drum.
Namun, persediaan itu sudah lama habis. Untuk kebutuhan tertentu, ia bersama warga lainnya juga memanfaatkan air ledeng meski warnanya kekuningan.
“Ya, tapi enggak apa-apa lah untuk masak nasi dan masak sayur,” katanya.
Kesulitan yang dialami warga tersebut terjadi ketika Perumda Tirta Landak juga menghadapi keterbatasan sumber air baku akibat kemarau panjang.
Plt Kabag Teknis Perumda Tirta Landak, Mulyadi, mengatakan pelayanan air bersih di Kota Ngabang mengandalkan dua sumber air baku dengan sistem broncaptering, yakni Broncaptering Merasap dan Broncaptering Sungai Maong.
“Selama musim kemarau ini kita mengalami kekeringan. Ada beberapa pelanggan kita yang memang tidak mendapatkan suplai air,” kata Mulyadi.
Untuk menjaga pelayanan, suplai dari Broncaptering Merasap dibantu melalui IPA 20 Pasar Lama. Sementara Broncaptering Sungai Maong mendapat dukungan dari IPA 30 di Jalan Mungguk.
Namun, debit air yang terbatas membuat distribusi belum dapat berjalan normal. Perumda menerapkan sistem giliran, yakni satu hari mengalir dan satu hari tidak mengalir.
Kondisi tersebut terutama dirasakan pelanggan yang berada di wilayah lebih tinggi dan di ujung jaringan perpipaan karena tekanan air lebih rendah.
Pemkab Landak bersama Perumda Tirta Landak kemudian mengerahkan mobil tangki untuk membantu warga yang terdampak langsung.
Distribusi air dilakukan selama tiga hari. Hari pertama, armada ditempatkan di Dusun Raiy dan Dusun Martalaya.
Hari kedua, distribusi diarahkan ke sekitar Terminal dan Gang Satelit, kemudian sore hari menuju kawasan Sungai Buluh dan sekitar Masjid Hilir Kantor.
Pada hari ketiga, armada dialihkan ke kawasan Tungkul dan sekitar Gang Manunggal Atas, termasuk Saka 10 dan 11. Sore harinya, distribusi dilanjutkan di sekitar Pasar Sayur.
Setiap titik mendapatkan sekitar 8.000 liter air. Dengan dua titik pelayanan, total air yang disalurkan mencapai sekitar 16.000 liter.
Mulyadi mengatakan rute distribusi akan dievaluasi apabila masih ada wilayah yang mengalami kesulitan air dalam waktu lama.
“Kalau memang ada daerah-daerah yang masih mengalami kesulitan sampai berminggu-minggu tidak mengalir, mungkin kita akan perbarui rute dan jadwal kita,” ujarnya.
Bagi Holipah dan Suminus, bantuan air menjadi penting selama kemarau belum berakhir. Sebab, ketika air perpipaan tidak mengalir dan persediaan air hujan telah lama habis, pilihan warga semakin terbatas: membeli air atau menggunakan sumber air yang kualitasnya jauh dari ideal. (*)
Penulis : Ya Wahyu
Editor : -

Leave a comment