Saat Musda Golkar Kalbar Menggantung, Bursa Calon Ketua Makin Menguat
PONTIANAK, insidepontianak.com — Kursi Ketua DPD Golkar Kalimantan Barat mulai diperebutkan, meski Musyawarah Daerah (Musda) ke-XI belum juga memiliki jadwal pasti.
Agenda Musda yang semula ditetapkan 16 Desember 2025 kembali ditunda lewat surat DPP Golkar Nomor B-907/DPP/GOLKAR/XII/2025 tertanggal 15 Desember 2025.
Namun, di tengah jadwal yang menggantung, dinamika internal langsung bergerak setelah Ketua DPD saat ini, Maman Abdurahman—kini Menteri UMKM—dikabarkan tak maju lagi.
Isu itu kontan menggoyang peta konsolidasi. Sebab, sebelumnya mayoritas DPD tingkat II dan ormas internal telah menyatakan dukungan kepada Maman.
Hanya saja, hingga kini Maman belum memberi kepastian. Dikonfirmasi Insidepontianak.com lewat WhatsApp, ia tak memberikan jawaban tegas. Sikap hening itu memantik berbagai tafsir.
Deretan Figur yang Menguat
Meski jadwal Musda belum pasti, panggung politik mulai disiapkan. Manuver kecil muncul ke permukaan.
Prabasa Anantatur paling sering disebut calon kuat Ketua DPD. Bukan tanpa alasan. Ia kader senior. Pernah menjadi Sekretaris Golkar Kalbar dua periode. Kini menjabat Wakil Ketua DPRD Kalbar.
Tak hanya itu, Prabasa juga pernah menjadi Wakil Bupati Sambas. Kombinasi pengalaman birokrasi dan politik membuat posisinya diperhitungkan.
Nama lain adalah Heri Mustamin, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kalbar.
Ia lima periode menjadi legislator dan pernah memimpin DPRD Kota Pontianak.
Di internal partai, Heri menjabat Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu. Ia ikut mengerek kursi Golkar DPRD Kalbar dari 8 menjadi 9 pada Pileg 2025.
Selanjutnya, nama Fransiskus Ason turut masuk radar bursa pencalonan. Ia Ketua DPD Golkar Sanggau sekaligus Ketua Komisi II DPRD Kalbar.
Di daerah pemilihannya, kursi Golkar naik dari satu menjadi dua pada Pileg 2024. Nama Bendahara Golkar Kalbar Ichfani juga tak ketinggalan disebut berpeluang sebagai penantang.
Terakhir, Bupati Mempawah, Erlina, muncul sebagai figur alternatif di luar struktur inti. Dinamika yang muncul ini menandakan arena menuju Musda mulai memanas, meski panggung resmi belum dibuka.
Pengamat: Tanpa Maman, Tarung Jadi Berat
Pengamat politik Universitas Tanjungpura Pontianak, Syarif Usmulyadi, menilai banyaknya nama yang muncul menunjukkan stok kader Golkar masih kuat.
“Artinya Golkar tidak kekurangan figur. Tantangannya bagaimana Musda mengelola kompetisi tetap sehat,” ujarnya.
Namun ia menyoroti satu faktor penentu: efek Maman. Jika benar tak maju, dampaknya bisa langsung terasa pada elektoral.
“Popularitas dan pengaruhnya belum tentu tergantikan. Golkar berpotensi kehilangan kursi di Pileg 2029,” katanya.
Menurut dosen senior FISIP Universitas Tanjungpura itu, untuk target kemenangan Pileg dan Pilkada, figur Maman masih memiliki daya dorong terbesar.
Di sisi lain, siapa pun ketua terpilih akan menghadapi pekerjaan berat. Mesin partai harus dirapikan. Struktur daerah harus disatukan.
“Ketua baru wajib mampu menggerakkan organisasi sampai ke bawah. Kalau tidak, suara bisa tergerus,” jelasnya.
Secara histori, Golkar adalah partai berpengalaman. Namun setiap pergantian nakhoda selalu menentukan arah layar.
Kini yang ditunggu, bukan lagi siapa yang akan maju, melainkan siapa yang mampu menguasai dukungan saat Musda akhirnya digelar.***
Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -
Tags :

Leave a comment