PONTIANAK, insidepontianak.com — Ajang Saprahan Khatulistiwa 2026 bukan sekadar event seremonial. Kegiatan yang digelar Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat ini menjadi panggung nyata untuk mendorong UMKM dan pariwisata Kalbar naik kelas.
Bertempat di kawasan Ayani Megamall Pontianak, acara ini menggabungkan kekuatan tradisi, ekonomi kreatif, hingga digitalisasi dalam satu ruang kolaborasi. Tema yang diusung pun jelas: mendorong UMKM dan pariwisata agar lebih kompetitif, bahkan tembus pasar global.
Ketua Dekranasda Kalbar, Erlina, menilai kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat promosi produk lokal, khususnya wastra dan kriya khas Kalbar.
“Ini bukan sekadar pameran. Ini ruang strategis untuk memastikan produk kita punya daya saing, bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga global,” tegasnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi kunci agar produk kerajinan daerah tidak hanya unggul secara seni, tapi juga kuat secara pasar.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI, Ricky Perdana Gozali, memaparkan bahwa kinerja ekonomi Kalbar menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekonomi daerah tumbuh 5,39 persen (yoy), meningkat dari tahun sebelumnya dan menjadi salah satu yang tertinggi di Kalimantan.
Tak hanya itu, inflasi Kalbar juga terkendali di angka 2,89 persen (yoy) per Maret 2026—terendah se-Kalimantan.
Di sisi lain, digitalisasi UMKM juga melesat. Hingga Maret 2026, jumlah merchant QRIS di Kalbar telah menembus 501 ribu dengan lebih dari 804 ribu pengguna. Total transaksi mencapai 16,7 juta, didominasi oleh pelaku usaha mikro dan kecil.
“Ini menunjukkan ekosistem pembayaran digital di Kalbar semakin kuat dan siap menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Ricky menegaskan, semangat Saprahan bukan hanya soal tradisi, tapi juga simbol kolaborasi. Penguatan ekonomi daerah, kata dia, tidak bisa berjalan sendiri.
“Harus ada sinergi antara pemerintah, perbankan, dan masyarakat agar dampaknya benar-benar dirasakan luas,” pungkasnya.
Melalui Saprahan Khatulistiwa 2026, Kalbar menunjukkan bahwa tradisi dan modernisasi bisa berjalan beriringan—mendorong UMKM naik kelas dan membuka jalan menuju pasar yang lebih besar. (*)
Leave a comment