Ria Norsan Tegaskan Legowo Dikritik Mahasiswa, Penanganan Karhutla Butuh Kolaborasi

5 September 2026 22:48 WIB
Gubernur Kalbar, Ria Norsan. (Istimewa)

PONTIANAK, insidepontianak.com - Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan legowo terhadap kritik mahasiswa terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan video viral memperlihatkan responsnya 'tersulut' saat dihadang mahasiswa yang menuntut penetapan status bencana nasional.

Pencegatan tersebut terjadi saat ia bersama rombongan sedang bergegas menuju lokasi pemadaman karhutla di Rasau Jaya II dan Limbung, Kabupaten Kubu Raya, pada Kamis (3/9/2026).

Peninjauan lokasi tersebut ditegaskan bukan sekadar memantau petugas, melainkan juga untuk membagikan bantuan yang diperlukan tim di lapangan.

Namun tak disangka, saat kendaraan yang ditumpangi melintas di Jalan Arteri Supadio, sekelompok mahasiswa mendadak muncul dan mencegat rombongan.

Ria Norsan turun menemui mereka. Memulai dialog dengan baik. Menjelaskan secara rinci progres penanganan yang sedang berlangsung.

Meski demikian, mahasiswa terus memberondongnya dengan pertanyaan bernada mendesak terkait penetapan status bencana nasional.

"Saya jelaskan, menetapkan suatu daerah menjadi Bencana Nasional, ada tahapannya. Dan, itu kewenangan pemerintah pusat. Saya berbicara baik-baik," ujar Ria Norsan kepada Insidepontianak.com, Sabtu (5/9/2026).

Namun, mahasiswa terus mendesak serta mempertanyakan kegiatan Gubernur yang turun membagikan bantuan.

Ria Norsan memaklumi kritik tersebut. Ia pun mengajak mahasiswa untuk bersama-sama berpartisipasi menangani karhutla.

Sebab baginya, dalam situasi kritis, yang dibutuhkan adalah kekompakan, bukan saling menyalahkan.

Rencana kunjungan Menteri Kehutanan ke Kalbar juga diprotes mahasiswa karena dinilai sarat pencitraan dan tidak memberikan solusi konkret.

Puncaknya, salah satu dari mereka melontarkan ucapan yang dinilai menghina Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Norsan, ucapan itu tidak etis, apalagi disertai dengan tindakan menunjuk ke arah kepala, sehingga ia spontan tersulut amarah.

"Saya emosi karena mahasiswa itu menghina Presiden dengan kalimat yang tidak pantas. Saya tegur, tetapi dia justru menjawab dengan bahasa yang tidak etis," ujarnya.

Norsan menyayangkan video yang belakangan viral justru menyudutkan posisinya dan menggiring opini seolah bertindak arogan.

Padahal, lanjutnya reaksi itu terjadi karena kritik yang disampaikan mahasiswa sudah tidak lagi konstruktif.

"Sayangnya, tidak ada video yang menayangkan bagian pernyataan mahasiswa yang menyulut emosi saya tersebut," lanjutnya.

Meski demikian, Ketua Dewan Masjid Kalbar ini menegaskan tidak alergi dengan kritik serta masukan mahasiswa.

Justru kritik diperlukan untuk menghadirkan solusi demi percepatan penanggulangan karhutla di Kalimantan Barat.

Ia memastikan pemerintah pusat maupun daerah terus melakukan langkah penanggulangan nyata di lapangan.

Bantuan dari Presiden RI Prabowo Subianto—seperti ratusan pompa air, helikopter water bombing, hingga Dana Alokasi Khusus (DAK)—telah dikerahkan secara maksimal.

Dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, titik api (hotspot) terbanyak berada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kubu Raya. Upaya pemadaman gabungan telah menunjukkan progres pesat.

"Di Kubu Raya, dari 700 hektar lahan terbakar, saat ini tinggal 100 hektar yang masih menyisakan titik api. Alhamdulillah, kemarin beberapa wilayah sudah diguyur hujan," ucapnya.

Ia mengakui pemadaman api di lahan gambut memang tidak mudah karena api bertahan di bawah permukaan tanah.

"Tetapi kami terus berusaha memadamkannya dengan peralatan yang ada," pungkasnya. ***

 


Penulis : Dina Prihatini Wardoyo
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar