Musim Emas Ubur-Ubur di Temajuk, Nelayan Raup Jutaan Rupiah per Hari
SAMBAS, insidepontianak.com – Nelayan di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, tengah menikmati berkah musim panen ubur-ubur yang datang setiap tahun. Dalam sehari, hasil tangkapan nelayan bahkan bisa mencapai hingga 2.000 ekor.
Sejak Maret hingga Mei, pesisir Temajuk dipenuhi aktivitas nelayan yang berlomba-lomba menangkap ubur-ubur di laut lepas. Musim ini menjadi momentum penting yang tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Kepala Desa Temajuk, Agil, mengatakan mayoritas warga kini fokus memanfaatkan musim panen tersebut. Ia menyebut, fenomena ini telah menjadi siklus tahunan yang selalu dinantikan.
“Musim ubur-ubur ini jadi berkah bagi masyarakat. Selain menambah penghasilan nelayan, juga membuka peluang kerja bagi warga,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Dalam sehari, satu nelayan minimal mampu menangkap sekitar 1.000 ekor ubur-ubur menggunakan perahu dan alat pengait sederhana berbahan kayu dan besi. Bahkan, hasil tangkapan bisa menembus 2.000 ekor saat kondisi laut mendukung.
Setelah ditangkap, ubur-ubur langsung dibawa ke darat untuk diolah di kilang-kilang besar yang berada di tepi pantai. Di tempat ini, ubur-ubur diproses dengan campuran tawas dan garam untuk menghilangkan lendir, sebelum dipres hingga siap jual.
Satu kilang berkapasitas besar mampu menampung ratusan ribu ekor ubur-ubur. Namun, proses pengolahan tidak singkat, memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan hingga produk benar-benar siap dipasarkan.
Hasil olahan tersebut kemudian dijual kepada agen dari Malaysia. Sebelum pembelian, tim dari Malaysia biasanya turun langsung ke Temajuk untuk memastikan kualitas ubur-ubur sesuai standar ekspor.
Kata dia, dari sisi ekonomi, nilai jual ubur-ubur cukup menjanjikan. Harga per ton berkisar antara Rp28 juta hingga Rp30 juta. Dengan tangkapan minimal 1.000 ekor per hari, nelayan bisa meraup pendapatan kotor sekitar Rp2,5 juta, dan keuntungan bersih sekitar Rp2 juta setelah dipotong biaya operasional.
Meski demikian, nelayan masih menghadapi sejumlah kendala, seperti cuaca yang tidak menentu serta keterbatasan pasokan bahan bakar. Kondisi ini kerap menghambat aktivitas melaut.
“Kendala utama saat ini cuaca yang cepat berubah dan ketersediaan bensin yang sulit, ditambah harganya cukup tinggi,” kata Agil.
"Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, musim panen ubur-ubur tetap menjadi harapan besar bagi masyarakat pesisir Temajuk dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi merek, " pungkasnya. (*)
Penulis : Antonia Sentia
Editor : -
Tags :

Leave a comment