Saat Asap Mengepung, Alat Pemantau Udara Milik Kementerian LH di Sanggau Rusak, Sudah Setahun Tak Diperbaiki

3 September 2026 14:04 WIB
Alat pemantau kualitas udara atau Air Quality Monitoring Sistem (AQMS) milik Kementrian Lingkungan Hidup yang ditempatkan di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sanggau rusak. (Insidepontianak.com/Ansar)

SANGGAU, insidepontianak.com – Alat Pemantau Kualitas Udara atau Air Quality Monitoring System (AQMS) di halaman Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sanggau sudah setahun tak berfungsi.

Padahal, alat tersebut sangat dibutuhkan untuk memantau situasi udara secara real time, terutama saat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengepung seperti sekarang.

“Alat itu sudah rusak sejak tahun lalu,” kata Kepala BPBD Kabupaten Sanggau, Didit Ricardi, Kamis (3/9/2026).

AQMS itu milik Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah Kabupaten Sanggau telah mengusulkan agar diperbaiki. Namun, belum disetujui. Alasannya, anggaran tak tersedia.

“Katanya, karena terjadi efisiensi, Kementerian LH tidak punya anggaran untuk memperbaiki,” ujarnya.

Tak hanya AQMS milik pemerintah pusat yang tak berfungsi, tiga unit alat pemantau kualitas udara portabel milik Pemkab Sanggau juga mengalami kerusakan dalam beberapa hari terakhir.

“Alat pemantau kualitas udara portabel beberapa hari terakhir tiga-tiganya rusak juga,” lanjutnya.

Kondisi ini praktis harus menjadi perhatian serius. Karena data kualitas udara sangat dibutuhkan untuk mengukur tingkat paparan polusi akibat kabut asap secara akurat.

Sebab itu, Pemkab Sanggau berupaya mengusulkan pengadaan alat pemantau kualitas udara baru yang memenuhi standar nasional.

“Nah, ini melalui Dinas LH coba diusulkan melalui Tim Anggaran Kabupaten Sanggau untuk alat yang memiliki standar SNI agar dapat mengukur kualitas udara secara presisi,” katanya.

Didit menegaskan, ketersediaan alat pemantau kualitas udara penting sebagai dasar pemerintah dalam mengambil keputusan dan menentukan kebijakan selama penanganan bencana asap.

Tanpa alat yang memenuhi standar, pemerintah akan kesulitan menyatakan secara empiris kondisi udara yang dihirup masyarakat.

“Untuk menyatakan secara empiris bahwa kualitas udara di wilayah kita ini berbahaya, sangat tidak sehat, tidak sehat, sedang, atau sehat, itu harus pakai alat khusus,” tegasnya.

Ia berharap pengadaan maupun perbaikan alat pemantau kualitas udara dapat segera direalisasikan.

Dengan begitu, kondisi udara di Kabupaten Sanggau dapat dipantau secara berkala sebagai pijakan untuk mengambil langkah perlindungan bagi masyarakat.***


Penulis : Ansar
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar