Jarak Pandang Turun, Melawi Masuk Pemantauan Patroli Udara Karhutla

21 Agustus 2026 14:12 WIB
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 20–21 Agustus 2026/IST

MELAWI, insidepontianak.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat membuat pemantauan kondisi udara dan jarak pandang terus dilakukan. Di Kabupaten Melawi, jarak pandang masih berada pada kisaran 1 hingga 5 kilometer.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 20–21 Agustus 2026, kondisi jarak pandang di Melawi secara umum masih berada dalam kisaran tersebut.

Meski sempat mengalami perubahan, kondisi Melawi belum menunjukkan penurunan jarak pandang hingga di bawah 1 kilometer. Sekitar pukul 20.00 WIB, jarak pandang bahkan sempat tercatat lebih dari 5 kilometer sebelum kembali berada pada kisaran 1–5 kilometer.

Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan jarak pandang menjadi salah satu parameter yang terus dipantau untuk melihat perkembangan kondisi atmosfer dan potensi dampak Karhutla.

“Untuk wilayah Melawi, berdasarkan pemantauan yang kami terima, jarak pandang masih berada pada kisaran 1 sampai 5 kilometer. Kondisi ini tetap kami pantau karena perkembangan cuaca dan kabut asap dapat berubah sewaktu-waktu,” ujar Daniel, Jumat (21/8/2026).

Melawi Belum Masuk Kondisi Jarak Pandang Ekstrem

Dibandingkan sejumlah wilayah lain di Kalimantan Barat, kondisi jarak pandang di Melawi masih relatif lebih baik.

Dalam periode pemantauan tersebut, jarak pandang di Ketapang tercatat sekitar 0,5 kilometer, sedangkan di Kubu Raya mencapai sekitar 0,7 kilometer akibat kabut asap.

Melawi sendiri belum tercatat mengalami jarak pandang di bawah 1 kilometer. Namun, kondisi tersebut tidak membuat BPBD mengurangi kewaspadaan.

Daniel menegaskan, pemantauan titik panas dan perkembangan kondisi wilayah tetap dilakukan sebagai bagian dari deteksi dini Karhutla.

“Meskipun di Melawi belum tercatat jarak pandang di bawah satu kilometer pada data ini, kewaspadaan tetap harus dijaga. Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah tetap dilakukan sebagai langkah deteksi dini,” katanya.

Melawi Masuk Sasaran Patroli Udara

Kewaspadaan di Melawi juga diperkuat melalui rencana patroli udara yang dilakukan Satgas Udara BPBD Kalimantan Barat.

Melawi termasuk dalam wilayah yang direncanakan mendapat pemantauan dari udara bersama Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, Landak, Sanggau, dan Sekadau.

Patroli tersebut bertujuan mendapatkan gambaran kondisi wilayah secara lebih luas sekaligus membantu mendeteksi lebih cepat apabila terdapat indikasi kebakaran hutan dan lahan.

“Patroli udara menjadi bagian dari upaya untuk mendapatkan gambaran kondisi wilayah secara lebih luas. Apabila ditemukan indikasi kebakaran, informasi tersebut dapat segera ditindaklanjuti oleh tim di lapangan,” jelas Daniel.

Jarak Pandang Penting untuk Keselamatan Patroli

Menurut Daniel, kondisi jarak pandang tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara, tetapi juga menjadi faktor penting dalam keselamatan kegiatan penanganan Karhutla, terutama operasi yang menggunakan pesawat atau helikopter.

“Kondisi jarak pandang sangat penting untuk keselamatan dan kelancaran kegiatan di lapangan. Karena itu, setiap perkembangan cuaca, kabut asap dan kondisi wilayah terus kami koordinasikan dengan pihak terkait,” ujarnya.

BPBD juga menekankan bahwa penanganan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan patroli udara. Informasi dari masyarakat dan petugas di lapangan menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan ketika muncul titik api.

Di tengah kondisi cuaca yang masih perlu diwaspadai, masyarakat Melawi diminta menghindari aktivitas pembakaran lahan secara terbuka.

Warga juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan titik api, kepulan asap tebal, maupun indikasi kebakaran lahan di sekitar lingkungan mereka.

Meski jarak pandang Melawi belum masuk kategori ekstrem, perubahan cuaca dan potensi munculnya titik panas tetap menjadi perhatian.

BPBD Kalbar mengingatkan, semakin cepat titik api terdeteksi, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas. (*)


Penulis : REDAKSI
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar