Rakernas Lembaga Perempuan Dayak Nasional Digelar di Pontianak, Tegaskan Perempuan Garda Terdepan Bentuk Keluarga Berkualitas

14 Agustus 2026 14:55 WIB
Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke IV dan Ulang Tahun ke 3 di Rumah Radakng Pontianak, Jalan Sultan Syahrir Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (14/8/2026).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke IV dan Ulang Tahun ke 3 di Rumah Radakng Pontianak, Jalan Sultan Syahrir Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (14/8/2026).

Rakernas tersebut dibuka Asisten I Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Anthonius Rawing dan dihadiri Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis.

Adapun Rakernas LPDN menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan Dayak dalam pembangunan keluarga guna membentuk generasi yang berkualitas.

Sekjen MADN, Yakobus Kumis mengatakan, gagasan pembentukan LPDN bermula ketika dirinya melakukan pelantikan Dewan Adat Dayak Kalimantan Selatan pada 12-14 Agustus 2022.

“Lembaga Perempuan Dayak Nasional itu keluar idenya pada saat saya melakukan pelantikan Dewan Adat Dayak Kalimantan Selatan pada tanggal 12-14 Agustus 2022 yang lalu. Sehingga kami tindak lanjuti dalam rapat kerja nasional pada waktu itu,” ujar Yakobus.

Menurutnya, LPDN kini telah memasuki usia tiga tahun dan melaksanakan Rakernas keempat. Ia menyampaikan apresiasi sekaligus dukungan penuh terhadap keberadaan organisasi tersebut.

“Hari ini di usianya yang ke-3 dan dalam rapat kerja nasional ke-4, kami menyatakan mendukung penuh kegiatan ini dan apresiasi atas kegiatan Rakernas LPDN dan ulang tahun,” katanya.

Yakobus menegaskan, keberadaan LPDN memiliki posisi strategis dalam upaya mewujudkan masyarakat Dayak yang berkualitas.

Ia menyebut perempuan, terutama seorang ibu, memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi sejak dari lingkungan keluarga. Sebab, perempuan tidak hanya memiliki peran melahirkan anak, tetapi juga mengasuh, mendidik dan membesarkan mereka.

Disamping itu, Yakobus menilai, kualitas sebuah bangsa tidak dapat dilepaskan dari kualitas keluarga. Keluarga yang kuat akan menjadi fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang kuat dan berkualitas.

Sebaliknya, masyarakat yang kuat dan berkualitas akan menjadi modal penting dalam membangun bangsa dan negara.

“Tanpa kehadiran perempuan, tentu keluarga yang ada di Indonesia tidak akan bisa menjadi keluarga yang berkualitas, yang kuat,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan dan peran perempuan.

“Kalau keluarga berkualitas dan kuat ini muncul di dalam keluarga-keluarga, tentu nanti akan terbentuk masyarakat yang kuat dan berkualitas. Sebuah masyarakat yang kuat dan berkualitas tentu akan membentuk sebuah bangsa, sebuah negara yang kuat. Karena itu kita harus benar-benar peduli keberadaan perempuan ini,” ungkapnya.

Asisten I Pemprov Kalbar Antonius Y Rawing mengatakan, Rakernas LPDN diharapkan tidak hanya menjadi forum organisasi, tetapi juga menghasilkan gagasan dan program nyata yang mampu menjawab berbagai persoalan perempuan dan keluarga.

Menurutnya, perempuan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus membentuk karakter generasi penerus.

“Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga. Dari keluarga yang kuat, akan lahir masyarakat yang kuat dan berkualitas,” ujarnya.

Ia berharap LPDN terus mengambil bagian dalam berbagai agenda pembangunan, termasuk peningkatan pendidikan keluarga, pemberdayaan ekonomi perempuan, perlindungan anak serta pelestarian budaya Dayak.

 Ketua Umum Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) Nyelong Inga Simon menegaskan penguatan peran perempuan dalam keluarga menjadi salah satu fokus pembahasan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-IV.

Menurut Nyelong, perempuan memiliki peran penting dalam meringankan beban keluarga, terutama melalui peningkatan kualitas pendidikan anak, pola asuh, hingga pemberdayaan ekonomi produktif.

“Yang kita dorong, kita bahas dalam Rakernas ini bagaimana peran LPDN, ibu-ibu untuk meringankan beban keluarga jika anaknya bisa memperoleh ikatan dinas. Kata kuncinya tingkatkan kualitas sekolah, pendidikan, tingkatkan pola asuh,” ujar Nyelong.

Ia mengingatkan, pendidikan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah maupun orang lain. Pendidikan formal harus berjalan seiring dengan pendidikan di lingkungan keluarga.

Nyelong menyoroti pentingnya kehadiran orangtua dalam proses tumbuh kembang anak di tengah pesatnya penggunaan teknologi.

“Jangan diserahkan kepada pembantu sementara ibu-ibunya bebas, tidak lagi mengayun anaknya untuk pola asuh tetapi yang diayun adalah HP-nya,” katanya.

Ia menegaskan, hal tersebut bukan untuk menyamaratakan kondisi seluruh ibu. Namun, fenomena itu perlu menjadi pengingat agar orangtua tetap mengambil peran utama dalam pengasuhan.

“Ini kasus, tidak semua ini terjadi di ibu-ibu, tetapi ini penting kita ingatkan agar pendidikan rumah tangga bisa sejalan dengan pendidikan formal,” ujarnya.

Selain pendidikan dan pola asuh, LPDN juga menyiapkan program jangka menengah untuk menjawab tantangan pengelolaan sumber daya alam, peningkatan kualitas pendidikan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Nyelong mengatakan, peningkatan kualitas pendidikan pada akhirnya harus berdampak terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

LPDN juga mendorong aktivitas ekonomi produktif melalui pembentukan kelompok usaha bersama yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan pendekatan berbasis komunitas.

Namun, ia menyadari setiap masyarakat memiliki kemampuan dan tingkat pengetahuan yang berbeda, termasuk dalam mengadopsi teknologi.

“Karena kemampuan kami berbeda-beda, pengetahuan kami berbeda-beda, tingkat kemampuan adopsi teknologi juga berbeda-beda. Kata kuncinya atas dinamika itu maka kami perlu pendampingan,” jelasnya.

Menurut Nyelong, pendampingan menjadi penting agar program pemberdayaan tidak berhenti pada pembentukan kelompok usaha, tetapi benar-benar mampu meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat.

Disamping itu, LPDN juga punya program jangka panjang yang diarahkan untuk menuju Indonesia Emas 2045. Adapun program jangka pendek, fokus menyelesaikan program lima tahunan yang ditargetkan hingga 2028.

“Pendek kata, Rakernas ke-IV ini program jangka panjangnya adalah mengeluarkan program untuk menuju Indonesia Emas tahun 2045. Jangka pendeknya menyelesaikan lima tahun yang berakhir 2028,” kata Nyelong.

Disamping itu juga, LPDN juga ingin terlibat aktif dalam menjawab sejumlah persoalan sosial yang mendesak di masyarakat.

Di antaranya pencegahan dan penanganan masalah asap akibat kebakaran hutan dan lahan, pemberantasan penyalahgunaan narkotika serta percepatan penanganan stunting.(Andi)


Penulis : Andi Ridwansyah
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar