Karhutla Kalbar Mulai Mereda? Hotspot Turun Tajam, Asap Belum Hilang

11 September 2026 14:17 WIB
Ilustrasi - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan/IST

PONTIANAK, insidepontianak.com – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mengalami penurunan tajam. Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ancaman asap di sejumlah wilayah.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20 mencatat sebanyak 39 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Kalbar hingga Kamis, 10 September 2026 pukul 21.05 WIB.

Angka itu turun drastis dibanding sehari sebelumnya yang mencapai 134 titik. Secara nasional, jumlah hotspot high confidence justru meningkat dari 395 titik pada 9 September menjadi 569 titik pada 10 September 2026.

Di enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah tercatat memiliki hotspot terbanyak dengan 96 titik. Setelahnya Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan 9 titik dan Jambi 2 titik.

Penurunan hotspot di Kalbar menjadi perkembangan positif di tengah masih berlangsungnya operasi pengendalian karhutla. Meski demikian, kondisi di lapangan tetap dinamis karena hotspot dapat berubah mengikuti cuaca, kelembapan, angin dan kondisi bahan bakar.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak otomatis berarti satu titik merupakan satu kejadian kebakaran.

Satu kejadian kebakaran bahkan dapat menghasilkan beberapa hotspot sehingga setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi langsung di lapangan.

Asap Masih Ganggu Jarak Pandang Pontianak

Penurunan hotspot belum serta-merta membuat persoalan asap berakhir. Pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada 10 September 2026 pukul 10.00 WIB menunjukkan jarak pandang di Pontianak hanya sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap.

Kondisi serupa juga terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan jarak pandang sekitar 3 kilometer dan kondisi berasap. Jambi tercatat memiliki jarak pandang sekitar 2 kilometer.

Sementara itu, Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar 6 kilometer dengan kondisi cerah berawan. Palembang mencatat jarak pandang 10 kilometer atau lebih, sedangkan Banjarmasin juga berada pada kisaran 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan hotspot belum bisa menjadi satu-satunya ukuran untuk menyatakan ancaman karhutla telah berakhir.

Konsentrasi asap di udara juga dipengaruhi arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan serta keberadaan titik api dan bara yang masih tersisa.

53 Armada Udara Disiagakan

Untuk mengantisipasi perkembangan karhutla, pemerintah masih mengoperasikan kekuatan udara di enam provinsi prioritas.

Sebanyak 53 armada udara disiagakan untuk mendukung pengendalian karhutla. Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sementara 19 armada lainnya diperuntukkan bagi patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha juga terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, mopping up serta pendinginan.

Langkah tersebut menjadi penting terutama di kawasan gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api sudah tidak terlihat.

Karena itu, proses pendinginan dan pembasahan lahan tetap dilakukan untuk mencegah api kembali menyala.

Kualitas Udara Masih Jadi Perhatian

Selain hotspot dan kondisi api, pemerintah juga memantau kualitas udara melalui konsentrasi PM2,5.

Sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih menunjukkan kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa wilayah di Kalimantan terpantau dalam kategori berbahaya.

Kondisi tersebut menjadi indikator penting dalam menentukan prioritas penanganan, karena dampak karhutla tidak hanya diukur dari luas area terbakar atau jumlah hotspot, tetapi juga dari sebaran asap dan dampaknya terhadap masyarakat.

Dengan hotspot Kalbar yang turun dari 134 menjadi 39 titik, tekanan karhutla memang mulai berkurang. Namun, asap yang masih membatasi jarak pandang di Pontianak menunjukkan bahwa penanganan belum selesai.

Pemerintah tetap meminta masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan keberadaan asap, titik api maupun indikasi kebakaran agar dapat diverifikasi dan ditangani sedini mungkin. (*)


Penulis : REDAKSI
Editor : -

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar